Minggu, 11 Maret 2012

SEMUA MATERI



Tujuan Materi
·         Memberikan pemahaman kepada peserta tentang tujuan kuliah (asistensi) hanya untuk mendapatkan Ridho Allah.
·         Memberikan pemahaman kepada peserta tentang tujuan amal, karena Allah memberikan kemenangan yang besar.
·         Senantiasa berniat karena Allah dalam setiap melakukan aktivitas.

Rincian Materi
A.   Pengertian Niat
Secara bahasa, ikhlas berasal dari kata khalasa yang berarti bersih/murni. Sedangkan niat berarti al qashdu artinya maksud atau tujuan. Niat merupakan amal hati secara murni, bukan amal lidah. Niat bukan sekedar sesuatu yang melintas di dalam hati lalu hilang seketika itu juga, yang berarti tidak ada keteguhan.
Al khaththaby mendefenisikan niat adalah tujuan yang terdetik di dalam hatimu dan menuntut darimu. Al Baidhawi juga mendefenisikan niat adalah dorongan hati yang dilihatnya sesuai dengan suatu tujuan, berupa mendatangkan manfaat atau mengenyahkan mudharat dari sisi keadaan maupun harta.
Keberadaan niat harus disertai pembebasan dari segala keburukan, nafsu dan keduniaan, harus ikhlash karena Allah, dalam setiap amal-amal akhirat, agar amal itu diterima di sisi Allah. Sebab setiap amal sholih mempunyai dua sendi, yang tidak akan diterima di sisi Allah kecuali dengan keduanya, yaitu:
1.                       Niat yang ikhlash dan benar
2.                       Sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah.
Pentingnya Niat yang Ikhlas (Ikhlasunniyah)
Ikhlas merupakan ruhnya amal, maka tanpa ikhlas, sebagus dan sebesar apapun amal tidak akan ada artinya disisi Allah swt.
 Allah azza wa jalla tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas dalam mencari keridho’annya semata”.(H.R. Abu Daud dan Nasai).
Syarat diterimanya amal atau perbuatan:
a.    Bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya.
b.    Ikhlas dalam berniat
c.    Sesuai dengan syariat Islam (AlQur’an dan Sunnah)
Penentu nilai/kualitas suatu amal.
Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrah menuju Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa berhijrah kepada dunia (harta atau kemegahan dunia) atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kea rah yang ditujunya”.(H.R. Bukhori dan Muslim).
Mendatangkan pahala dan berkah dari Allah(Q.S. 2:262; 4:145-146).

B.   Dalil-Dalil Al Qur’an dan Hadits
“Di antara kalian ada yang mengehendaki dunia dan di antara kalian ada orang yang mengehendaki akhirat”(QS Al Imran:152)
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (Hud 15-16). Dan firman Allah yang lain dalam QS 2:262; 4:145; 4:145-146;  Al Isra’:18-19; Asy Syra: 20).
Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrah menuju Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Barangsiapa berhijrah kepada dunia (harta atau kemegahan dunia) atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kea rah yang ditujunya”.(H.R. Bukhori dan Muslim).
“Ada satu pasukan perang yang hendak menyerbu Ka’bah. Tatkala mereka berada di suatu padang sahara, maka barisan yang pertama dan terakhir dibuat buta.” Aisyah berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin barisan yang pertama dan yang terakhir dibuat buta, padahal di antara mereka ada orang-orang awam yang lemah dan juga bukan termasuk golongan mereka?”Beliau menjawab,”Barisan pertama dan yang terakhir dibuat buta, kemudian mereka dibangkitkan menurut niatnya.”(H.R. Bukhori, Muslim, dll)

C.   Beberapa Unsur yang Membentuk Keikhlasan
1.    Orang yang mukhlis harus memperhatikan pandangan Khaliq bukan pandangan makhluk.
2.    Apa yang lahir pada diri orang yang mukhlis harus sinkron dengan batinnya, yang tampak dengan yang tersembunyi.
3.    Menganggap sama antara pujian dan celaan manusia.
4.    Tidak boleh memandang ikhlasnya sehingga ia takjub kepada diri sendiri, sehingga ketakjubannya itu merusak dirinya.
5.    Melupakan tuntutan pahala amal di akhirat. Sebab orang yang mukhlis tidak merasa aman terhadap amalnya, yang bisa saja dicampuri bagian untuk dirinya. Menurut pandangan orang mukhlis, amal yang dikerjakannya itu tidak layak dimintai suatu balasan dan ia melihat pahala sebagai suatu kebaikan Allah terhadap dirinya.
6.    Takut penyusupan riya dan hawa nafsu ke dalam jiwa, sementara dia tidak menyadarinya.

D.   Cara-Cara Untuk Menumbuhkan Niat yang Ikhlas
1.    Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal.
2.    Menambah pengetahuan tentang Allah dan hari kiamat.
3.    Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan AlQur’an, karena Al Qur’an adalah penyembuh dari segala penyakit dalam dada (QS 10:57) termasuk riya, ujub dan sum’ah.
4.    Memperbanyak amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah tanpa diketahui orang lain.
5.    Menghindari/mengurangi saling memuji.
6.    Berdo’a, dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik.

E.   Teladan Sejarah
1.    Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata,
 ”Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya orang yang pertama-tama diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya,”Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu? Dia menjawab, aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid. Allah berfirman,engkau dusta. Tetapi engkau berperang supaya dikatakan,”dia adalah orang yang gagah berani. Dan memang begitulah yang dikatakan tentang dirimu. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca AlQur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya, nikmat-nikmatnya. Maka ia pun mengakuinya. Allah bertanya, apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu? Dia menjawab, aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca AlQur’an karena Mu. Allah berfirman, engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan, dia adalah orang yang berilmu, dan engkau membaca AlQur’an agar dikatakan, dia adalah Qori’. Dan memang begitulah yang dikatakan tentang dirimu. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan ke neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan juga diberiNya berbagai macam harta. Lalu ia didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmatnya. Maka ia pun mengakuinya. Allah bertanya, apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu? Dia menjawab, aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau suka agar dinafkahkan harta, melainkan aku pun menafkahkannya karenaMu. Allah berfirman, engkau berdusta. Tetapi engkau melakukan hal itu agar dikatakan, dia seorang pemurah. Dan memang begitulah yang dikatakan tentang dirimu. Kemudian diperintahkan agar dia diseret dengan muka tertelungkup hingga dilemparkan ke neraka. (H.R. Muslim, An Nasa’y, At Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
2.    “Ada seorang laki-laki berkata, malam ini aku benar-benar akan mengeluarkan shadaqah. Lalu ia keluar sambil membawa shadaqahnya, lalu memberikannya kepada seorang pencuri. Orang-orang pun membicarakan hal ini,”Malam ini engkau telah memberikan shadaqah kepada seorang pencuri”. Maka orang itu berkata,”Ya Allah, bagimu segala puji atas pencuri itu. Aku benar-benar akan mengeluarkan shadaqah lagi.”Maka dia pun keluar sambil membawa shadaqahnya, lalu memberikannya kepada seorang wanita pezina. Mereka pun membicarakannya,”Malam ini engkau telah memberikan shadaqah kepada seorang wanita pezina”. Maka orang itu berkata,”Ya Allah, bagimu segala puji atas pezina itu. Aku benar-benar akan mengeluarkan shadaqah lagi.”Maka dia pun keluar sambil membawa shadaqahnya, lalu memberikannya kepada orang yang kaya. Mereka pun membicarakannya,”Malam ini engkau telah memberikan shadaqah kepada orang yang kaya.” Maka orang itu berkata,”Ya Allah, bagimu segala puji atas pencuri, pezina dan orang yang kaya itu”. Lalu ia bermimpi, dan ada yang berkata kepadanya dalam mimpinya itu,”Tentang shadaqah yang ia berikan kepada pencuri, semoga saja ia bisa menghentikan kebiasaannya mencuri. Tentang wanita pezina, semoga saja dia menghentikan kebiasaannya berzina. Tentang orang yang kaya, semoga saja dia bisa mengambil pelajaran, lalu dia mau menafkahkan dari sebagian yang diberikan Allah kepadanya.” (H.R. Bukhori, Muslim dan An Nasa’y).








Flowchart: Alternate Process: Sarana Pembelajaran<br /> •	Diskusi<br /> •	Pemutaran VCD<br /> •	Games<br /> Referensi<br /> •	Al Qardhawy, Yusuf. Niat dan Ikhlah, Pustaka Al Kautsar.<br /> •	Al Ghazali, Imam, Al Hambali, Ibnu Razab dan Al Jauziyah, Ibnu Qayyim. Pembersih Jiwa.<br /> •	Hardian, Novi. Super Mentoring Senior, PT Syaamil Cipta Media.<br /> •	Abdullah, Rahmat. Untukmu Kader Dakwah.<br /> •	Ruswandi, Muhammad. Games For Islamic Mentoring.














MATERI 2
PERSAUDARAAN ISLAM
Tujuan
·         Setelah mendapatkan materi ini maka peserta asistensi akan mampu :
·         Mengetahui makna, hakekat dan buah dari ukhuwah islamiyah
·         Menjalin ukhuwah islamiyah sesama peserta khususnya dan umat islam pada umumnya
·         Merasakan penderitaan saudara-saudaranya di negeri-negeri islam yang sedang tertindas oleh musuh-musuh islam.

Rincian Materi
Ikatan persaudaraan antara sesama muslim merupakan model persaudaraan yang paling berharga dan hubungan paling mulia yang mungkin terbentuk antara sesama manusia.
Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (QS. 15:47)
Persaudaraan antar mukmin lebih unggul dari hubungan persaudaraan dengan saudara kandung sendiri karena ikatan  aqidah lebih kokoh dari ikatan keturunan. Hal ini dapat dilihat dari dialog Nuh as,
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya." (QS.11 : 46)
            Lalu Allah SWT menjawab :
Allah berfirman: "Hai Nuh, Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya[722] perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (QS 11 : 46)

A.   Makna Ukhuwah Islamiyah
Kata ukhuwah berasal dari kata kerja akha, missal dalam kalimat “akha fulanun shalihan” (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara). Makna ukhuwah menurut Hasan Al Banna adalah katerkaitan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.

B.   Hakekat Ukhuwah Islamiyah
Persaudaraan yang terjalin antar kaum mukmin pada hakekatnya merupakan :
1.    Nikmat Allah
Persaudaraan yang terjalin antara kaum mukmin merupakan anugerah nikmat yang besar dari Allah SWT,
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(QS Ali Imran : 103)

2.    Seperti Tali Tasbih
Ukhuwah yang dijalin oleh orang-orang yang beriman tidak memandang status keduniaan tapi berdasarkan aqidah. Ukhuwah laksana tili tasbih yang menyatukan manik-manik sehingga menjadi satu kesatuan. Jika tali putus maka bercerai-berailah semuanya. Ukhuwah islamiyah ini adalah sifat kaum mukmin dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.(QS 43 : 67)

3.   Arahan Rabbani
Ikatan persaudaraan orang-orang yang beriman merupakan arahan dari Allah SWT karena ia terbina karena Allah dan  merupakan tali iman yang paling kuat .
Dan jika mereka bermaksud menipumu, Maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Anfal: 62-63)

4.   Cermin Kekuatan Iman
Hanya orang-orang yang berimanlah yang akan merasakan indahnya hidup dalam persaudaraan islam,
Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al Hujarat :10)

C.  Perbedaan Ukhuwah Islamiyah danUkhuwah Jahiliyah
Perbedaan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah jahiliyah adalah :
·         Ukhuwah islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan akidah dan syari’at islam.
·         Ukhuwah Jahiliyah bersifat temporer (terbatas waktu dan tempat), yaitu ikatan selain ikatan akidah (misal : ikatan keturunan orang tua – anak, perkawinan, nasionalisme, kesukuan, kebangsaan dan kepentingan pribadi).

D.  Peringkat-Peringkat Ukhuwah
Ta’aruf, berarti saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT.
Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujarat :13)
Ta’aluf, berarti bersatunya seorang muslim dengan muslim yang lainnya. Ta’aluf  berasal dari kata ilf artinya persatuan. Kata ulfah juga serupa dengan kata ilf yang bermakna kecintaan Allah SWT kepada orang yang beriman, yang mana Allah telah mempersatukan hati mereka (QS.3:103 dan QS.8:63)
Tafahum, berarti saling memahami.
Ri’ayah dan tafaqud adalah hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw beliau bersabda, “Barang siapa menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat, Allah selalu menolong hamba selama ia menolong saudaranya.”(HR. Muslim)
Ta’awun, berarti saling membantu tentu saja dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.
Tanashur, adalah jenis ta’awun tetapi memiliki pengertian yang lebih dalam, lebih luas dan lebih menggambarkan makna loyalitas dan cinta. Tanashur  merupakan terjemahan nyata dari ukhuwah dalam islam. Orang-orang yang berukhuwah dan bertanashur dalam kebenaran yang dibawanya. Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia pasti akan menolong siapa saja yang menolong agama-Nya dalam firman-Nya,
(yaitu) orang-orang yang Telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali Karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah Telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (QS. Al Hajj:40)

E. Hal-hal yang Menguatkan Ukhuwah Islamiyah
Hal-hal yang menguatkan ukhuwah islamiyah adalah:
1.    Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai.
Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “Ada seseorang yang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang di samping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia ya Rasulullah’, Lalu Nabi menjawab ‘Apakah kamu telah memberi tahukan padanya?’  Orang tersebut menjawab ‘Belum’. Kemudian Rasulullah bersabda ‘Beritahukan kepadanya’ Lalu orang itu memberituhukan kepadanya seraya berkata ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintainya itu menjawab : ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”
2.    Memohon dido’akan bila berpisah
“Tidak seorang hamba mukmin berdo’a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata : Dan bagimu juga seperti itu”  (HR. Muslim).

3.    menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa.
“Janganlah kamu meremehkan kebaikan (apa saja yang datang dari saudaramu) dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka beerikan dia senyuman kegembiraan. (HR.Muslim)
4.    Berjabatan tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)
“Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah” (HR. abu Daud dari Barra’).
5.    Saling bersilaturrahim (mengunjungi saudara)
Imam Malik  meriwayatkan : Berkata Nabi bahwa Allah berfirman : “Pasti akan mendapatkan cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, di mana keduanya saling berkunjung karena Aku dan saling memberi karena Aku.”

6.    menberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
Hendaknya kalian saling memberi hadiah karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati.” (HR. imam Dailami dari Anas)
7.    Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
Siapa yang meringankan beban penderitaan seorang mukmin di dunia psti Allah akan meringankan beban penderitaannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang dalam keadaan susah pasti Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudara-Nya.” (HR. Muslim)
8.    Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
“Hak seorang muslim atas muslim ada enam, yaitu jika bertemu maka ucapkan salam padanya, jika diundang maka penuhilah, jika dinasehati maka nasehati pulalah dia, jika bersin maka do’akanlah, jika sakit kunjungilah dan jika meninggal maka antarkanlah ke kubur.” (HR. Muslim dan Abu Hurairah)
9.    Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilannya
“Barang siapa mengucapkan selamat kepada saudaranya ketika saudaranya mendapat kebahagiaan niscaya Allah mengembirakannya pada hari kiamat.” (HR. Thabrani)

F.    Buah Ukhuwah Islamiyah
Adapun buah dari ukhuwah Islamiyah adalah :
·         Merasakan lezatnya iman
Tiga perkara yang barang siapa terdapat padanya tiga perkara tersebut maka ia akan merasakan lezatnya iman, yaitu : jika ia mencintai Allah dan rasul-Nya lebih dari mencintai yang lain, merasa cinta karena Allah dan benci karena Allah, lebih menyukai api neraka yang menyala-nyala daripada harus berbuat syirik kepada Allah.” (HR. Muslim)
·         Mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat (termasuk dalam 7 golongan yang dilindungi)
“Allah berfirman pada hari kiamat : “di mana orang-orang yang menjalin rasa cintakarena Aku? Hari ini pada saat tidak ada lagi naungan apapun kecuali naungan-Ku.
Ada sebanyak 7 kelompok dari mereka itu yang mendapat perlindungan-Nya,sebagaimana diriwayatkan  Asy-Syaikhani bahwa diantara yang 7 kelompok itu adalah dua orang yang menjalin cinta karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah juga.” (HR. Ibnu Hibban dan Hakim dari Anas ra.)
·         Mendapatkan tempat khusus disurga
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman[801]". Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.  Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya. (QS.Al Hijr :45-48)
Sesungguhnya di sekitar Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya, yang di atasnya terdapat suatu kaum yang menggunakan pakaian cahaya. Wajah mereka bercahaya dan mereka itu bukan Nabi dan syuhada tertegun (merasa iri) kepada mereka sehingga berkata : ‘Hai Rasulullah tolong beritahu siapa gerangan mereka itu?’ Beliau menjawab :’Mereka adalah orang yang menjalin cinta karena Allah dan saling bermajelis (duduk memikirkan sesuatu) karena Allah dan saling mengunjungi karena Allah semata.” (HR. Nasa’I).
Rounded Rectangle: Sarana Pembelajaran<br /> •	Ceramah dan diskusi<br /> •	Games dan Out Bond<br /> •	Nonton VCD<br /> •	Hiking dan study tour<br /> Referensi<br /> •	Novi Hardian dan Tin ILNA Yosen, Super mentoring Senior, Syamil.<br /> •	Abu ‘Ashim Hisyam, Virus-virus Ukhuwah, Robbani Press<br /> •	Jarror, Husni Adham. Bercinta dan bersaudara karena Allah. GIP<br /> •	‘Ulwan, Abdullah Nasih, Meraih nikmatnya Iman, <br /> •	Rahasia Sukses Ikhwan Membina Persaudaraan di jalan Allah. Asadudin Press.<br /> •	Rahmat Abdullah, Untukmu Kader Dakwah, Pustaka Dakwatuna.<br /> •	‘A’id Al Qorni, Pesona  Cinta 





















MATERI 3
PROBLEMATIKA UMMAT

Tujuan
·         Membangkitkan keresahan peserta asistensi tentang kondisi ummat Islam pada hari ini
·         Memberikan pemahaman tentang kelemahan dan potensi yang dimiliki ummat Islam
·         menumbuhkan kesadaran pada peserta asistensi untuk tidak berpangku tangan terhadap masalah yanbg sedang dihadapi oleh ummat Islam pada masa sekarang dalam sebuah kerja nyata.
·         Memberikan pemahaman kepada peserta asistensi bahwa memikirkan, membela serta perasaan senasib sepenanggungan terhadap kaum muslimin adalah sebuah kewajiban dan bernilai ibadah.

Rincian Materi
Kehidupan di dunia merupakan tempat berkumpulnya masalah, yang dengan masalah itu Allah ingin melihat kualitas diri kita apakah mampu menghadapinya dengan terus meminta pertolongan padaNya dan menjadi hambanya yang bertaqwa atau malah sebaliknya, menjadi lemah dan fasiq. Membiarkan masalah begitu saja bukanlah sebuah penyelesaian, karena umat yang tidak menyadari akan terus terjerumus sedangkan kita yang mengetahui mempunyai kewajiban untuk mengajak mereka kepada jalan yang benar. Oleh karena itu untuk mengantisipasi hal tersebut, kita perlu mengetahui apa sebenarnya masalah yang senantiasa di tubuh umat Islam dan bagaimana cara penyelesaiannya.


A.  Problematika Umat Disebabkan oleh
a.   Kecenderungan
            Kecenderungan manusia kepada suatu kegiatan tertentu atau minat kepada suatu objek merupakan karakteristik manusia. Secara alamiyah manusia itu lebih menyukai hal-hal yang menyenangkan misalnya, bersantai sambil minum teh atau berekreasi dan mengunjungi temapt-tempat hiburan. Namun kecenderungan ini berbeda pada setiap individu tergantung pada bagaimana latar belakang kehidupan mereka dan lingkungan tinggalnya.
b. Watak
            Manusia memiliki watak yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Masing masing memiliki kekhasan serta memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Watak merupakan hasil dari interaski lingkungan dan bawaan seseorang sehingga terkadang sulit untuk dirubah. Watak biasanya menjadi ciri bagi pribadi tertentu. Namun demikian watak yang terbantuk tidak sesuai dengan fitrah manusia itu dapat dirubah dengan pendidikan Islam.
c. Syahwat
            Permasalahn yang berkaitan dengan syahwat ini sudah ada sejak adanya manusia. Seperti kisah habil dan kabil, kisah Nabi Yusuf AS yang digoda oleh Zulaikha, kisah isteri nabi yang ingin mendapatkan harta sehingga nabi berdiam diri selama dua bulan. Atau kisah Tsa’labah yang terlambat sholat berjama’ah karena sibuk mengurusi binatang ternaknya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 14:
            “dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini (syahwat) yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari Janis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (syurga).”
d. Insting
Insting dapat berupa keinginan makan dan minum, kecenderungan hati nurani (naluri), sensitifitas terhadap persoalan, daya respon tehadap suatu aksi. Setiap manusia memiliki insting yang berbeda-beda. Insting ini ada yang bernilai positif misalnya sesuai dengan fitrah ada juga yang negatif yang menjauhi fitrahnya. Dengan insting yang  berbeda-beda inilah setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menyikapi permasalahan umat.

B. Faktor-faktor Penyebab Kelemahan Umat Islam
            Antara lain adalah:
1.  Faktor Eksternal: Ghozwul Fikr (perang pemikiran)
Ghozwul Fikri adalah serangan pemikiran secara bertubi-tubi yang tersusun secara sistematik, teratur dan terancang dengan baik yang dilakukan  untuk merubah kepribadian, gaya hidup, dan tingkah laku pada umat Islam. Ghozwul fikri ini bertujuan merusak akhlak, menghancurkan pemikiran, melarutkan kepribadian, dan menjadikan muslim keluar dari ahgamanya. Ghozwul fikri ini merupakan strategi baru yang ditemukan oleh orang-orang kafir setelah melihat kenyataan kekalahan nasrani pada masa perang salib. Usaha ini mulai dilaksanakan sebelum jatuhnya Khilafah Islamiyah, dimulai dengan memutuskan hubungan di antara negeri Islam sehingga memunculkan paham nasionalisme, kekauman, dan kebangsaan. Pemisahan segala aspek-aspek kehidupan dari nilai-nilai luhur agama Islam. Dapat dilihat dengan munculnya orientalisme, kristenisasi, dan gerakan pembebasan perempuan yang sudah menunjukkan hasilnya pada sebagian umat Islam, mereka telah berubah menjadi jahiliyah (bodoh). Firman Allah dalam QS Al-Maidah: 50;
”Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Pelaku dari Ghazwul fikri ini secara umum terdiri dari orang-orang yahudi, Nasrani,  Majusi, Musyrikin, Munafikin, Atheis, dan orang kafir. Mereka biasa disebut dengan mustakbiruun (orang-orang yang melampaui batas),
 “…bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” (QS Al-Fatihah: 7).
Mereka akan terus bergerak untuk mewujudkan tujuannya itu “ dan orang-orang yahudi tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka…” (QS Al-Baqoroh: 120)
        
2.  Faktor Internal, antara lain:
I)  Jauhnya ummat Islam dari Al-Qur’an
Dalam Q.S. Al-Furqan: 30, “dan Rasul (Muhammad) berkata, “Ya Tuhanku, sesunggguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimakumullah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang mengacuhkan Al-Qur’an ini ada tiga kemungkinan:
·         Ia tidak membaca Al-Qur’an
·         Ia membaca Al-Qur’an namun tidak mentadabburinya (Q.S. Al-Anfal: 2)
·         Ia membaca dan mentadabburi Al-Qur’an namun tidak mengamalkannya
           
Salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah akibat mempelajari Islam hanya karena mengikuti sehingga pemahaman yang ada pun sekedar pemahaman ikut-ikutan (taqlid buta), bukan pemahaman yang berlandaskan ilmu pengetahuan. Padahal Allah telah berfirman:
Dan janganlah kamu mengikuti apa ynag kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Q.S. Al-Isra’: 36)
           
2)   Terpecah belah karena perbedaan masalah furu’ (cabang)
Oleh musuh-musuh Islam. Sudah saatnya bagi umat Islam untuk memperkuat kesatuan hati dan tali ukhuwah. Firman Allah:
dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akakn tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesuangguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mhabijaksana.” (Q.S. Al-Anfal: 63)          
3)   Adanya perasaan rendah diri dan tidak tsiqoh pada ummat Islam
Di antara umat Islam saat ini banyak yang tidak memiliki Izzah Islam, merasa enggan untuk menunjukkan identitas keislamannya.”. Padahal Islam itu tinggi dan tidak ada yang menandingi ketinggiannya (al Islamu ya’lu wa laa yu’la ‘alaihi), demikian sabda Rasulullah. Maka Izzah Islam harus bangkit pada diri tiap-tiap umat Islam, karena orang yang paling tinggi derajatnya di muka bumi ini sesungguhnya adalah orang-orang yang beriman.
      “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ali-Imran: 139)
4)   Adanya gejala taqlid dengan semua yang datang dari kaum kafir
Bagi seorang muslim yang tidak lagi memiliki izzah Islam akan mudah baginya untuk berkiblat dan mengikuti sesuatu yang lain, yang datang dari luar Islam bahkan orang kafir sekalipun. Dan tentu saja hal ini menjadi bukti kelemahan padahal Allah sudah berfirman:
“wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu menjadikan orang yahudi dan nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepad aorang-orang yang zalim.”(Q.S. Al-Maidah: 51)

5)   Tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi
”Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu, ‘berilah kelapoangan di dalam majlis-majlis, maka lapangkanlah niscaya Allah akn memberi kelapangan untuk mu. Dan apanbila dikatakan berdirilah kamu’, maka berdirilah, nioscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang beriman diantaramu dan orang –orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan”.Q.S. Al Mujadilah(58):11
      Dan rasulullah telah bersabda “ Keutamaan seorang alim (ahli ilmu) atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah derajatnya (HR. Tirmidzi).
“Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (Hr.Muslim, Ibdi Hibban dan Al hakim)
Islam telah pula melahirkan ilmuan besar dalam sejarah seperti Ibnu sina (avicena), Ibnu Rusyid (Averroes), Al Khawarijmi dll.

C. Upaya Perbaikan Yang Dapat Dilakukan
1.  Kembali kepada Perintah Allah dan RosulNya
2.  Bersungguh-sungguh dalam pendidikan Islam
3. Kembali mengkaji sejarah Islam tentang kegemilangan Islam untuk                                         menimbulkan kecintaan pada tatanan kehidupan yang diatur oleh Al-Islam
4.   Mengamalkan prinsip tawazun (keseimbangan)
      Menuntut ilmu, memahami dan mengamalkannya dengan niat yang ikhlas dan dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam serta menyerahkan hasilnya hanya kepada Allah (bertawakkal
5. Ummat islam harus menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan
6. Mendidik generasi Islam dengan manhaj (system) pendidikan yang syamil (sempurna) dan mutakamil (menyeluruh)
7.   Menyiapkan kekuatan semaksimal mungkin untuk menghadapi musuh Islam.
Firman Allah dalam Q.S. Al-Anfal: 60 :
 dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya. Apa saja yang kamu infaqkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).”
8.   Dengan perjuangan dan pengorbanan yang total sebagai bukti dari ungkapan cinta kepada Allah dan Rasulnya. Sebab tiada cinta tanpa usaha dan pengorbanan.


Rounded Rectangle: Sarana Pembelajaran<br /> •	Ceramah dan diskusi<br /> •	Games dan Out Bond<br /> •	Bedah Buku dan Film<br /> Referensi<br /> •	Siroh nabawiyah, <br /> •	Dari gerakan ke Negara, Anis Matta<br /> •	Qodhoya Asasiyah dalam dakwah, Syaikh Mustafa Mashyhur<br /> •	Ketika rupiah jadi peluru zionis, Rizki Ridyasmara<br /> •	Mengokohkan aqidah menggairahkan ibadah, Badi’uz Zaman Said Nursi<br /> •	Tangan-tangan Imperialisme Modern, Dr. Achmad Satori Ismail & Abd. Fatah Abu Zaidah 

















MATERI 4
AKHLAQ ISLAM

Tujuan
  • Peserta mengetahui bentuk dan contoh-contoh akhlak Islam
  • Peserta mengetahui bentuk dan contoh akhlak yang tidak Islam
  • Mampu untuk membedakan, melaksanakan akhlak Islam dan menjauhi sera merubah akhlak yang tidak Islam

Rincian Materi
A. Akhlaq dan Keutamaan
Islam memiliki keistimewaan di bidang aqidah, ibadah dan pemikiran dan ia juga memiliki keistimewaan dalam masalah akhlaq dan keutamaan. Akhlaq dan keutamaan merupakan bagian penting dari eksistensi masyarakat Islam. Mereka adalah masyarakat yang mengenal persamaan keadilan, kebajikan dan kasih sayang, kejujuran dan kepercayaan, sabar dan kesetiaan, rasa malu dan kesetiaan, 'izzah dan ketawadhu'an, kedermawanan dan keberanian, perjuangan dan pengorbanan, kebersihan dan keindahan, kesederhanaan dan keseimbangan, pemaaf dan penyantun, serta saling menasihati dan bekerjasama (ta'awun). Mereka beramar ma'ruf dan nahi munkar, melakukan segala bentuk kebaikan dan kemuliaan, keutamaan akhlaq, semua dengan niat ikhlas karena Allah, bertaubat dan bertawakal kepada-Nya, takut menghadapi ancaman-Nya dan mengharap rahmat-Nya. Memuliakan syiar-syiarNya, senang untuk memperoleh ridhaNya, menghindari murka-Nya, dan lain-lain dari nilai-nilai Rabbaniyah yang telah banyak dilupakan oleh manusia.
Akhlaq bukan hanya menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia saja, akan tetapi ia mencakup hubungan manusia dengan penciptanNya. Masyarakat Islam sejak dari hal-hal yang kecil telah mengharamkan segala bentuk kerusakan dan moralitas yang buruk. Bahkan dalam beberapa masalah bersikap keras, sehingga memasukkannya dalam kategori dosa-dosa besar. Seperti misalnya pengharaman arak dan judi, keduanya dianggap sebagai perbuatan kotor dari perbuatan-perbuatan syetan.           Kemudian pengharaman zina dan setiap perbuatan yang mendekatkan atau membantu terlaksananya perzinaan. Seperti kelainan seksual yang itu merupakan tanda rusaknya fitrah dan hilangnya kejantanan. Masyarakat Islam juga mengharamkan praktek riba dan memakan harta orang lain dengan jalan yang bathil, terutama jika orang itu lemah, seperti anak-anak yatim. Juga mengharamkan sikap durhaka kepada kedua orang tua, memutus hubungan kerabat, mengganggu tetangga, menyakiti orang lain baik dengan lesan atau tangan, dan menjadikan di antara tanda-tanda kemunafikan seperti: dusta, berkhianat, tidak menepati janji, serta penyelewengan yang lain.
Terhadap setiap kerusakan yang menyimpang dari fithrah yang sehat dan akal yang cerdas, maka Islam datang untuk mengingkarinya dan terus menerus mengingkarinya. Demikian juga akhlaq mulia yang sesuai dengan fithrah yang sehat dan akal yang waras akan memberi kebahagiaan bagi individu maupun masyarakat maka Islam telah membenarkan dan memerintahkan serta menganjurkannya.
Bagi siapa saja yang membaca Kitab Allah dan hadits-hadits Rasul SAW akan melihat bahwa sesungguhnya akhlaq dan keutamaan itu merupakan salah satu pilar utama bagi masyarakat Islam dan bukan sesuatu yang berada di pinggir atau masalah sampingan dalam hidup. Al Qur'an menyebut akhlaq termasuk sifat-sifat utama dan orang-orang yang beriman dan bertaqwa, di mana tiada yang masuk syurga selain mereka, tiada yang bisa selamat dari api neraka selain mereka dan tiada yang dapat meraih kebahagiaan dunia akhirat selain dari mereka. Akhlaq merupakan bagian dari cabang-cabang keimanan, di mana tak sempurna keimanan seseorang kecuali dengan menghiasi keimanan tersebut dengannya. Barangsiapa yang berpaling dari akhlaq Islam maka ia telah menjauhi sifat-sifat orang yang beriman dan berhadapan dengan murka Allah serta laknatNya. Berikut ini kami kemukakan sebagian ayat-ayat Al Qur'an mengenai akhlaq Islamiyah sebagai gambaran/contoh sesuai dengan urutan mushaf:
"Bukankah menghadaphan wajahmu ke arah timur dan Barat itu satu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang betaqwa." (Al Baqarah: 177)
Ayat yang mulia ini mengumpulkan antara aqidah, yaitu beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi, dengan ibadah, seperti shalat dan zakat dan dengan akhlaq, yaitu memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim dan seterusnya, sampai menepati janji, sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Kemudian menjadikan keterkaitan yang rapi tersebut sebagai hakikat kebajikan dan hakikat beragama serta hakikat ketaqwaan, sebagaimana hal itu dikehendaki oleh Allah.
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orangyang menunaikan apa-apa yang Allah perintahkan supaya ditunaikan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhann Tuhan-nya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)." (Ar-Ra'du: 19-22)
Gambaran akhlaq dalam ayat ini memiliki keistimewean, yakni dengan mengumpulkan antara lain :
1.   Akhlaq Rabbaniyah seperti takut kepada Allah dan takut akan buruknya hisab.
Bagaimanakah sifat orang munafik itu? Berikut ini kita kutif tulisan dari Imam Al Ghazali yang menuturkan ucapan Imam Hatim Al Ashom, seorang ulama yang shalih ketika mengupas perbedaan antara orang mukmim dengan orang munafik.
a.    Seorang mukmin senantiasa disibukan dengan bertafakur, merenung, mengambil pelajaran dari aneka kejadian apapun di muka bumi ini, sementara orang munafik disibukan dengan ketamakan dan angan-angan kosong terhadap dunia ini.
b.    Seorang mukim berputus asa dari siapa saja dan kepada siapa saja kecuali hanya kepada Allah, sementara orang munafik mengharap dari siapa saja kecuali dari mengharap kepada Allah.
c.    Seorang mukmin merasa aman, tidak gentar, tidak takut oleh ancaman siapa pun kecuali takut hanya kepada Allah karena dia yakin bahwa apapun yang mengancam dia ada dalam genggaman Allah, di lain pihak orang munafik justru takut kepada siapa saja kecuali takut kepada Allah,
d.    Seorang mukmin menawarkan hartanya demi mempertahankan agamanya, sementara seorang munafik menawarkan agamanya demi mempertahankan hartanya.
e.    Seorang mukmin menangis karena malunya kepada Allah meskipun dia berbuat kebajikan, sementara seorang munafik tetap tertawa meskipun dia berbuat keburukan.
f.     Seorang mukmin senang berkhalwat dengan menyendiri bermunajat kepada Allah, sementara seorang munafik senang berkumpul dengan bersukaria bercampur baur dengan khalayak yang tidak ingat kepada Allah.
g.    Seorang mukmin ketika menanam merasa takut jikalau merusak, sedangkan seorang munafik mencabuti seraya mengharapkan panen.
h.    Seorang mukmin memerintahkan dan melarang sebagai siasat dan cara sehingga berhasil memperbaiki, larangan dan perintah seorang mukmin adalah upaya untuk memperbaiki sementara seorang munafik memerintah dan melarang demi meraih jabatan dan kedudukan sehingga dia malah merusak, naudzhubillah".
Nampak demikian jauh beda akhlak antara seorang mukmin dengan seorang munafik. Oleh karenanya kita harus benar-benar berusaha menjauhi perilaku-perilaku munafik seperti diuraikan di atas. Kita harus benar-benar mencegah diri kita untuk meyakini adanya penguasa yang menandingi kebesaran dan keagungan Allah. Kita harus yakin siapa pun yang punya jabatan di dunia ini hanyalah sekedar makhluk yang hidup sebentar dan pasti akan mati. Jangan terperangah dan terpesona dengan kedudukan, pangkat, dan jabatan, sebab itu hanya tempelan sebentar saja, yang kalau tidak hati-hati justru itulah yang akan menghinakan dirinya.
2.    Akhlaq lnsaniyah seperti menepati janji, sabar, silaturrahim, berinfaq dan menolak kejahatan dengan kebaikan.
Sesungguhnya orang merenungkan ayat tersebut akan medapatkan bahwa pada dasarnya akhlaq itu seluruhnya bersifat Rabbaniyah. Karena pada hakekatnya kesetiaan itu adalah setia terhadap janji Allah dan melaksanakan perintah Allah, sabar semata-mata untuk memperoleh ridha Allah, berinfaq juga mengeluarkan rezeki Allah, maka seluruhnya menjadi akhlaq Rabbaniyah yang sampai kepada Allah. Apalagi disertai dengan mendirikan shalat karena shalat itu seluruhnya termasuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah dan menerima sesuatu yang ada di sisi Allah.
Dan berikut ini adalah ayat-ayat Allah yang mengulas tentang akhlak Islam :
Al Furqan: 63-76 , Al Mu'minun: 1-11 , Asy Syura: 36-40 , Al An'am: 151-153, Al Insan (Ad-Dahr): 7-8 , Al Luqman 12-19, An-Nisa': l9, 36 , Al Maidah: 90 dll

B. Tugas Masyarakat Islam Terhadap Akhlaq

Sesungguhnya tugas masyarakat Islam terhadap akhlaq adalah sebagaimana tugasnya terhadap aqidah, pemikiran dan ibadah.Tugas (peran) mereka terhadap akhlaq ada tiga hal, yakni :
1. Taujih (mengarahkan), taujih atau pengarahan itu bisa dilakukan dengan penyebaran pamflet, sosialisasi di berbagai mass media, pembekalan, dakwah dan irsyad (menunjuki jalan yang lurus).
2. Tatshit (memperkuat), Tatshit (memperkuat) dapat dilakukan dengan pendidikan yang sangat panjang waktunya, dan dengan tarbiyah yang mengakar dan mendalam dalam level rumah tangga, sekolah dan universitas
3. Himaayah (memelihara), Sedangkan Himaayah itu bisa dilakukan dengan dua hal berikut:
·         Dengan pengendalian opini umum secara aktif, dengan selalu beramar ma'ruf dan nahi munkar serta membenci kerusakan dan menolak penyimpangan.
·         Dengan hukum atau undang-undang yang melarang kerusakan sebelum terjadinya dan pemberian sanksi setelah terjadinya, yang untuk memperingatkan orang yang hendak menyeleweng dan mendidik orang yang merusak serta membersihkan iklim berjamaah dari polusi moral.
Dengan tiga hal ini, yaitu taujih, tatsbit dan himaayah maka akhlaq Islam akan tumbuh, berkembang dan berjalan dalam kehidupan sosial seperti berjalannya air yang mengandung zat makanan dalam batang pohon sampai ke daun-daunnya.
·         Maka bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang di dalamnya akhlaq orang-orang yang beriman bersembunyi, sementara akhlaq orang-orang yang rusak muncul di permukaan.
·         Bukan pula masyarakat Islam itu masyarakat yang di dalamnya perilaku kekerasan orang-orang kuat mendominasi yang lemah dan yang lemah semata-mata tunduk kepada yang kuat.
·         Bukan disebut masyarakat Islam itu masyarakat yang menyembunyikan taqwAllah dan muraqabah kepada-Nya serta takut terhadap hisab Nya. Sehingga kita melihat manusia berbuat sesuatu seakan mereka menjadi tuhan-tuhan terhadap dirinya sendiri dan mereka terus berlaku demikian seakan di sana tidak ada hisab yang menunggu. Mereka terus dalam keadaan lalai, berpaling dan merasa cukup dengan apa yang sudah diperoleh di dunia.
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang diliputi oleh sikap tawaakul (bermalas-malasan) dan menyerah kepada keadaan, bersikap lemah dan berfikir negatif dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup serta melemparkan kesalahan kepada ketentuan takdir.
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang merendahkan orang-orang shalih dan memuliakan orang-orang fasik, mendahulukan orang-orang yang berbuat dosa dan mengakhirkan orang-orang yang bertaqwa.
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang menzhalimi orang yang berlaku benar, sementara ia justru mendukung para ahli kebathilan. Mereka mengatakan kepada orang yang dipukul, "Diamlah kamu, jangan berteriak!," dan bukannya mengatakan kepada orang yang memukul, ."Tahanlah tanganmu!"
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang segala macam kewajiban dirusak, seriap keinginan nafsu mereka turuti dan segala sesuatu diselesaikan dengan risywah (suap-menyuap).
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang orang tuanya tidak dimuliakan dan orang mudanya tidak dikasihi, serta orang yang punya keutamaan tidak dihargai.
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang akhlaqnya menjadi luntur dan meleleh, yang laki-laki menyerupai wanita dan kaum wanita menyerupai laki-laki.
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang tersebar di dalamnya fakhisyah (perbuatan keji), kaum laki-lakinya tidak memiliki kecemburuan dan kaum wanitanya kehilangan rasa malu.
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang orentasinya dalam beramal adalah riya' dan munafik atau untuk mencari pujian dan popularitas. Di sana hampir-hampir tidak ada lagi pejuang dari kalangan orang-orang yang ikhlas dan baik, yang bertaqwa dan yang tidak menonjolkan diri. Yaitu apabila mereka hadir, mereka tak dikenal dan apabila mereka pergi, orang tidak mencari (karena merasa kehilangan).
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang diwarnai oleh akhlaq orang-orang munafik, apabila berbicara ia dusta, apabila berianji tidak menepati, apabila dipercaya berkhianat dan apabila bertengkar ia berbuat curang.
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang bapak-bapak dan anak-anak mereka ditelantarkan. Sehingga anak menjadi durhaka terhadap orang tua, hubungan sesama persaudaraan menjadi kering, saling memutuskan silaturrahim, ghibah membudaya, mengadu domba dan, sikap egois menjadi identitas anggota masyarakat.
·         Bukanlah masyarakat Islam itu masyarakat yang tidak diatur oleh keutamaan dan nilai-nilai moralitas yang luhur, Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya aku diutus tiada lain kecuali untuk menyempurnakan, akhlaq." (HR. Bukhari, Hakim dan Baihaqi)
Maka tidak bisa dipisahkan dalam masyarakat ini antara ilmu dan akhlaq, antara seni dengan akhlaq, antara ekonomi dengan akhlaq, antara politik dengan akhlaq dan bahkan antara perang dengan akhlaq. Karena akhlaq merupakan unsur yang mewarnai segala persoalan hidup dan sikap hidup seseorang, mulai dari yang kecil sampai urusan yang besar, baik yang berdimensi individu maupun sosial.
Taujih Aa Gym :
Suatu ketika Rasulullah Saw. ditanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau diutus ke bumi?" Maka jawaban Rasulullah sangat singkat sekali, "Sesungguhnya aku diutus ke bumi hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak". Menurut Imam Al Ghazali, akhlak itu adalah respon spontan terhadap suatu kejadian. Pada saat kita diam, tidak akan kelihatan bagaimana akhlak kita. Akan tetapi ketika kita ditimpa sesuatu baik yang menyenangkan ataupun sebaliknya, respon terhadap kejadian itulah yang menjadi alat ukur akhlak kita. Kalau respon spontan kita itu yang keluar adalah kata-kata yang baik, mulia, berarti memang sudah dari dalamlah kemuliaan kita itu. Tanpa harus dipikir banyak, tanpa harus direkayasa, sudah muncul kemuliaan itu. Sebaliknya kalau terjadi sesuatu pada diri kita, tiba-tiba sumpah serapah yang keluar dari mulut kita, maka lemparan yang keluar sebagai respon spontan kita itulah yang akan menunjukkan bagaimana akhlak kita. Maka jika bertemu dengan orang yang meminta sumbangan lalu kita berfikir keras diberi atau jangan. Kita berfikir, kalau dikasih seribu, malu karena nama kita ditulis, kalau diberi limaribu nanti uang kita habis. Terus... berfikir keras hingga akhirnya kita pun memberi akan tetapi niatnya sudah bukan lagi dari hati kita karena sudah banyak pertimbangan. Padahal keinginan kita semula adalah untuk menolong. Kalau sudah demikian, sebetulnya bukan akhlak dermawan yang muncul.
Sekarang ini krisis terbesar kita memang krisis akhlak. Seorang pengusaha terkenal dari Jepang yang mengatakan bahwa jikalau seseorang ingin memimpin perusahaan dengan baik, maka sebetulnya skill atau keahlian itu cukup 10% saja, yang 90% adalah akhlak. Karena akhlak yang baik, orang yang cerdas pun mau bergabung denganya. Mereka merasa aman, merasa tersejahterakan lahir batinnya. Akibatnya, berkumpulah para ahli. Kemudian kepada mereka diberikan motivasi dengan akhlak yang baik maka jadilah sebuah prestasi yang besar. Oleh karena itu sebenarnya kesuksesan itu adalah milik orang yang berakhlak mulia. “
Rounded Rectangle: Sarana Pembelajaran<br /> •	Ceramah dan diskusi<br /> •	Games dan Out Bond<br /> •	Bedah Buku dan Film 





BAB V

PERANAN PEMUDA DALAM ISLAM

A. PEMUDA SEBAGAI GENERASI HARAPAN ISLAM

            Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda. Al-Quar’an menceritakan tentang protet pemuda ashaabu kahfi  sebagai kelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan mayoritas kaumnya yang menyimpang dari agama Allah SWT. Akibatnya, Allah SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dengan menidurkan mereka selama 309 tahun. (Q.S Al Kahfi)
            Kisah pemuda ashaabul ukhduddalam Al Qur’an pun menceritakan tentang pemuda yang tegar keimanannya kepada Allah SWT. Sehingga banyak masyarakatnya yang beriman dan membuat murka penguasa. Akibatnya, ratusan orang dibinasakan dengan menceburkan kedalam parit berisi api yang bergejolak. Dan masih banyak lagi contoh-contoh  kisah para pemuda lainnya, diantaranya bahwa mayoritas dari assabiquunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali beriman kepada  Rasulullah SAW) adalah para pemuda (Abu Bakar ra. masuk Islam pada usia 32 tahun, umar ra. 35 tahun, Ali ra. 9 tahun, Utsman ra. 30 tahun dan seterusnya).
            Sifat-sifat yang menyebabkan para pemuda tersebut dicintai Allah SWT dan mendapatkan derajat yang tinggi  (kisah mereka di abadikan dalam Al-Qur’an dan dibaca oleh jutaan manusia dari masa ke masa) adalah sebagai berikut :
  1. Mereka selalu menyeru kepada Al Haq (Q.S. 7: 181)
  2. Mereka mencintai Allah SWT, maka Allah SWT mencintai mereka (Q.S. 5:54)
  3. Mereka saling melindungi dan menegakkan shalat (Q.S. 9:71) tidak sebagaimana para pemuda yang menjadi musuh Allah SWT (Q.S. 9:67)
  4. Mereka adalah para pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah SWT (Q.S. 13:20)
  5. Mereka tidak ragu-ragu dalam berkorban diri dan harta untuk kepentingan Islam (Q.S. 49:15)

B. PEMUDA SEBAGAI GENERASI YANG MEMAHAMI KONDISI REALITA UMAT

            Jika kita menyaksikan kondisi manyoritas umat Islam saat ini, maka terlihat bahwa sebagian besar umat berada pada keadaan yang sangat memprihatinkan. Mereka bagaikan buih terbawa banjir, tidak memiliki bobot dan tidak memiliki nilai. Jika dilakukan analisis secara mendalam dari sudut pandang agama, maka akan terlihat bahwa realitas umat yang demikian disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
A.   Penyakit umat islam saat ini (Di Indonesia maupun di berbagai negara Islam) berpangkal pada sikap infiradiyyah (individualisme). Maksudnya, bahwa mayoritas umat islam pada saat ini bekerja sendiri-sendiri dan sibuk dengan masalahnya tanpa berusaha menggalang persatuan dan membuat suatu bargaining position demi kepentingan umat.
B.   Secara kejiwaan, beberapa penyakit yang memperparah kondisi umat Islam saat ini, diantaranya adalah :
1.    Emosional. Artinya, ikatan keislaman mayoritas umat saat ini baru pada ikatan emosional, belum disertai dengan kefahaman yang mendalam akan ajaran agamanya. Sehingga, disiplin bekerja, semangat berdakwah, gairah berinfak dan sebagainya baru pada taraf emosional, bersifat reaktif dan sesaat. (Q.S. 22:11) 
2.    Orientasi Kultus. Dalam pelaksanaan ibadah ritual, menjalankan pola haidup sampai dengan menyikapi berbagai peristiwa kontemporer, mayoritas masyarakat Muslim tidak berpegang kepada dasar kaidah-kaidah islam yang jelas. Mengapa? Karena pengetahuan keislaman yang pas-pasan sehingga lebih memandang kepada pendapat berbagai tokoh yag dikultuskan. Celakanya, para tokoh tersebut kebanyakan dikultuskan oleh barbagai lembaga yang tidak memiliki kompetensi sama sekali dalam bidang agama, seperti media masa. Akibatnya, bermunculanlah para ulamaselebriti yang berfatwa tanpa ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.
3.    Sok Pintar. Misalnya, Dalam bidang agama. Dengan berbekalpengetahuan Islam yang ala kadarnya setiap orang sudah merasa cukup dan tidak perlu belajar lagi untuk berani berbicara, berpandirian bahkan berfatwa. Seolah-olah agama tidak memiliki kaidah-kaidah, hukum-hukum yang perlu dipelajari dan dikuasai sehingga seorang layak berbicara dengan mengatasnamankan Islam.
4.    Meremehkan Yang Lain. Dengan ringannya seorang yang baru belajar agama disebuah universitas di barat, berani menyatakan bahwa jilbab adalah sekedar simbol bukan suatu kewajiban syar’i. Dengan “fatwa prematurnya” ini, ia telah berani manafsirkan tanpa kaidah atas ayat Al Qur’an.

C.   Adapun secara aktivitas (amaliyah) beberapa penyakit yang menimpa mayoritas umat Islam saat ini adlaah :
1.    Sembrono. Khutbah jum’at hanya hanya sekedar melaksanakan rutinitas tanpa dilakukan pembuatan silabus yang berbobot sehinga jamaah sebagian besar  datang untuk tidur dari pada mendengarkan isi khutbah. Kegiatan membaca Al Qur’an hanya terbatas pada menikmati kaindahan suara pembacanya tanpa diiringi keinginan untuk menikmati dan merenungkan isinya, sehingga disamakan dengan menikmati lagu-lagu dan nyanyian belaka.
2.    Parsial. Dalam melaksanakan Islam, mayoritas umat tidak berusaha mengamalkan keseluruhan kandungan Al Qur’an dan As-Sunnah, melainkan lebih memilih pada bagian-bagian yang sesuai dengan keinginannya  dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya. (Q.S. 2:85) Sehingga, seorang dipandang sebagai Muslim sejati, hanya dengan indikator melakukan shalat atau puasa saja. Padahal shalat hanya sebagian kecil kewajiban seorang muslim, disamping aturan-aturan lain yang juga wajib dilaksanakan oleh seorang Muslim dalam berekonomi, politik, pergaulan, pola pikir, cita-cita, bekerja dan sebagainya. Yang kesemuanya tanpa kecuali akan diminta pertanggung jawaban kita di akhirat kelak.     (Q.S. 2:208)
3.    Tradisional. Islam yang dilaksanakan masih bersifat tradisional, baik dari sisi sarana maupun muatannya. Dari sisi sarana, kaum Muslimin belum mampu menggunakan media-media modren secara efektif untuk kepentingan dakwah, seperti: Ceramah dengan simulasi komputer, VCD film-film Islami dan iklan-iklan yang sesuai dengan nilai-nilai islam. Kebanyakan masih masih mengandalkan pada cara tradisional seperti: Ceramah di mesjid, mushola dan dilapangan. Sementara dari sisi muatannya, isi ceramah yang disampaikan kebanyakan masih bersifat  fiqih oriented. Masalah-masalah akidah, ekonomi islam, apalagi masalah-masalah dunia islam kontemporer sama sekali belum banyak disentuh.
4.     Tanbal-sulam. Dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat, perdekatan yang dilakukan dersifat tambal-sulam dan sama sekali tidak menyentuh esensi permasalahan yang sebenarnya. Sebagai contoh: mewabahnya penyakit AIDS, cara mengatasinya sama sekali bertentangan dengan Islam yaitu dengan membagi-bagikan kondom. Seolah-olah lupa atau sengaja melupakan bahwa pangkal sebab dari AIDS adalah melakukan hubungan seks tidak dengan pasangan yang sah. Demikian pula masalah-masalah lainnya. Seperti : Tawuran pelajar, meningkatnya kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, menjamurnya KKN dan lain sebagainya. Hal ini berpangkal pada satu sebab yaitu lemahnya pemahaman dan kepedulian pemerintah dalam mengerjakan dan menerapkan aturan-aturan Islam.

C.  PEMUDA HARUS MENJADI GENERASI YANG BEKERJA DAN AKTIF BERDAKWAH

            Islam memandang posisi pemuda di masyarakat bukan menjadi kelompok pengekor yang sekedar berfoya-foya, membuang-buang waktu dengan aktivitas-aktivitas yang bersifat hura-hura dan tidak ada manfaatnya. Melainkan, islam menaruh harapan yang besar kepada para pemuda untuk menjadi pelopor dan motor penggerak dakwah islam.  Pemuda adalah kelompok masyarakat yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya , diantaranya mereka relatif masih bersih dari pencemaran  (akidah mapun pemikiran), mereka memilki semangat kuat dan kamampuan mobilitas yang tinggi.

            Para musuh Islam sangat menyadari hal tersebut, sehingga mereka berusaha sekuat tenaga mematikan potensi tersebut dari awal dan menghancurkan para pemuda  dengan berbagai kegiatan yang laghwun (bersifat santai dan melalaikan), bahkan destruktif.

            Pemuda yang baik dan benar adalah pemuda yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.     Mereka beramal atau bekerja didasari dengan keimanan atau akidah yang benar (Q.S. 41:33)
2.     Mereka selalu bekerja membangun masyarakat (Q.S. 18:7)
3.     Mereka memahami bahwa orang yang baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk umat dan masyarakat (Q.S. 9:105)


D.  PEMUDA HARUS MENJADI GENERASI YANG MENJADIKAN POTRET ISLAM

            Para pemuda hendaknya menyadari bahwa mereka haruslah menjadi kelompok yang mampu mempersentasikan nilai-nilai Islam secara utuh bagi masyarakat.
1.     Mereka menjadi generasi yang qalbunya hidup (Q.S. 42: 88-89) karena senantiasa dekat dengan Al-Qur’an dan tenang dengan zikrullah (Q.S. 13:28) bukan generasi yang berhati batu (Q.S.57:16) akibat jauh dari nilai-nilai Islam ataupun generasi mayat (Q.S. 6:122) yang tidak bermanfaat tetapi menebar bau busuk kemanamana.
2.     Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, para pemuda harus sabar dan terus berjuang menegakkan Islam. Hendaknya mereka berprinsip bahwa jika cintanya kepada Allah SWT benar, semua masalah akan terasa gampang.
3.     Dalam perjuangan jika yang menjadi ukurannya adalah keridaan menusia maka akan terasa berat, tetapi jika ukurannya keridaan Allah SWT, maka apalah artinya dunia ini. (Q.S. 16:96)

E.  PEMUDA HARUS MENJADI GENERASI YANG SELALU AKTIF BERDAKWAH
            Jika kita melihat kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, sejarah hidup Rasulullah SAW dan para sahabatnya ra. maka akan ditemukan beberapa keutamaan dakwah dan jihad sebagai berikut :
1.     Bahwa para sahabat ra. dalam berdakwah tidak menunggu Al-Qur’an lengkap diturunkan, melainkan setia satu ayat langsung disampaikan dan didakwahkan. Rasulullah SAW bersabda “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”.
Maka para pemuda tidak harus menunggu menjadi ulama dulu, baru mulai dakwah. Tetapi, mulailah dengan apa yang kita miliki dan laksanakan oleh diri sendiri labih dahulu.
2.     Sebagian besar lafazh do’a dalam Islam menggunakan lafal jamak, hanya sedikit yang menggunakan lafal mufrod (tunggal). Bahkan dalam surat Al Fatihah yang merupakan rukun shalat, semua do’anya dalam lafal jamak. Artinya, bahwa secara halus Allah SWT menyuruh umatnya selalu memikirkan yang lain dan bekerjasama.


F.    PEMUDA YANG BERPEGANG PADA NILAI-NILAI ISLAM  DI AKHIR ZAMAN AKAN DIANGGAP ANEH TAPI HARUS TETAP ISTIQOMAH
            Hal ini merupakan konsekuensi dari perjuangan menegakkan kebenaran Islam. Beberapa Hadis Raulullah SAW mengambarkan beratnya posisi kaum muslimin diakhir zaman walaupun sebagai imbalannya mereka mendapatkan pahala yang teramat besar. Beberapa hadis tersebut adalah :
1.     Bahwa nanti di akhir zaman umatku yang berpegang teguh kepada sunnahku, bagaikan seorang yang menggenggam bara api, jika dipegang terasa panas tapi jika dilepas api itu mati.
2.     Orang-orang yang berpegang teguh kepada sunnahku saat kerusakan melanda umatku, akan mendapatkan pahala seperti 100 orang yang mati syahid.
3.     Akan senantiasa ada sekelompok kecil dari umatku yang berpegang teguh kepada kebenaran. Mereka tidak terpengaruh oleh orang-orang yang berbeda dengan mereka dan menghina mereka, sampai mereka bertemu dengan Allah SWT mereka tetap dalam kondisi demikian

H.  PEMUDA HARUS MENJADI GENERASI YANG SEIMBANG DAN MODERAT
            Menjalankan Islam secara konsekwen  bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali, sebagaimana yang dipahami  oleh sebagian orang yang picik dalam pemahamannya. Allah SWT menegur kelompok orang yang lari dan meninggalkan dunia karena beralasan mencari akhirat (Q.S. 7:32) Rasulullah SAW pun tidak menolak dan meninggalkan dunia tetapi memanfaatkan dan memakmurkannya untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Akibatnya, kaum Quraisy mencela Rasulullah dan meragukan ke-Rasulannya. (Q.S. 25:7) Dan, Allah SWT membela Rasulullah SAW dengan menegaskan bahwa semua rasul pun pergi kepasar dan tidak mengasingkan diri.
            Keseimbangan (tawazun) pun berarti tidak berlebihan (ekstrem) dalam menjalankan Islam dan tidak bermalasan. (Q.S. 2:143) Jika keseimbangan berarti melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Konsep ekstrem maupun malas harus dipahami dengan menggunakan standar hukum Islam yang baku, bukan berdasarkan hawa nafsu dan pemahaman orang perorang. Mengapa? Karena jika nilai kebenaran dipahami berdasarkan hawa nafsu masing-masing, maka akan rusaklah dunia ini. (Q.S. 23:71)


VIII. PEMUDA HARUS MENJADI GENARASI YANG SELALU KEMBALI PADA ALLAH DAN BERTAUBAT

            Hal lain yang harus dipahami para pemuda adalah mereka harus memahami bahwa setiap manusia pernah berbuat dosa. Namun, sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang senantiasa segera bertaubat dan kembali kepada Allah SWT. (Q.S. 3:135)  Hal ini dikarenakan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah (Q.S. 20:115)  dan fakir akan hidayah Rabb-nya.
            Hendaknya para pemuda merenungkan ucapan sahabat Ali ra. sebagai berikut, “Maksiat yang kusadari, lalu aku bertaubat lebih kucintai dari taat yang membuatku bangga diri” Dan juga ucapkan seorang ulama salaf ibnu Athaillah berikut ini. “Boleh jadi dibukakan pintu taat padamu tapi hal itu menyebabkan kamu lupa dan kufur akan nikmat taat tersebut, dan bolah jadi dibuka pintu maksiat atasmu tapi membuatmu menyesal dan taubat sehingga engkau menjadi dicintai Allah SWT”.
  














MATERI KULIAH UMUM ASISTENSI ( Kelas)
MATERI 1
IBADAH

A.   Hakikat Ibadah
Tujuan Materi
·        Memehami hakikat ibadah kepada Allah
·        Memahami makna tujuan ibadah sebagai tugas kehidupan manusia
·        Termotivasi agar seluruh aspek kehidupannya sebagai pengabdian pada Allah

Rincian Materi
Perasaan (sumber pelaksanaan ibadah)
  • Merasakan banyaknya nikmat Allah SWT (QS.16:18, 55: 13, 18, 21, 23 dst, 31: 20, 14:7)
  • Merasakan Keagungan Allah (QS. 7:54, 67:1)
  • Ibadah yang dilakukan merupakan:
a. Tujuan menghinakan diri(QS. 35:14)
                         b.  Tujuan Kecintaan (QS. 2:165)
            c. Tujuan Ketundukan, (QS. 22:38-39)
  • Dilakukan dengan penuh takut dan harap(QS. 7:55-56, 9:8, 13, 33:39, 2:4, 21:90 )

B. Kesempurnaan Ibadah
Tujuan Materi
·            Memahami integralitas cakupan ibadah dalam islam
·            Dapat menyebutkanibadah-ibadah tersebut secara garis besar dalam berbagai lapangan kehidupan
·            Termotivasi menjadikan seluruh gerak hidupnya sebagai pengabdian pada Allah
Rincian Materi
a. Integralitas ibadah
b. Ibadah dalam Islam  (QS. 2:21, 51:56)
1.   Mencakup Seluruh Persoalan Din
·        Wajib
·       Sunnah
·       Mubah (QS. 3:19,5:3)
2.   Mencakup Seluruh Kehidupan
·         Amal-amal yang baik
·         Amal social
·         Amal kehidupan
·         Memakmurkan bumi
·         Menegakkan din, Mencakup seluruh kehidupan manusia (QS. 2:208)
·         Hati
·         Akal
·         Anggota tubuh (QS. 3:191)

C. Diterimanya Ibadah
Tujuan Materi
·   Memahami syarat-syarat diterimanya ibadah
·   Termotivasi untuk senantiasa mengikuti system islam

Rincian Materi
Ibadah terdiri atas dua bentuk:
a.    Ibadah mahdhah
  • Niatnya benar  (QS. 98:5,39: 11,14)
  • Disyari’atkan (QS.59:7)
  • Mengikuti cara yang benar (hadist), Kewajiban Itiba’ pada system dan cara (QS.7:157)
b. Ibadah Bukan Mahdhah
  • Niat yang ikhlas (QS. 98:5, 39:11,14)
  • Tergolong dalam amal shalih, Kewajiban kita itiba’ dalam system hadist (QS. 103:39, 5:8)

D. Hasil Ibadah
Tujuan materi
  • Memahami Ibadah salimah
  • Mengerti unsur-unsur yang dihasilkan dan wajib diwujudkan dalam beribadah secara benar
  • Mengerti hubungan ibadah salimah dengan takwa

Rincian materi
a.  Prinsip Mencapai Ibadah Yang Benar
  • Iman  (QS. 4:136)
  • Islam (QS. 2:112)
  • Ihsan (QS. 16:97, 2: 195)
  • Tunduk(QS. 9:112)
  • Tawakal (QS 11:88)
  • Cinta (QS. 2:165)
  • Roja’ atau Harapan (QS 2:218, 18:110)
  • Takut(QS. 76:7)
  • Do’a (QS. 25:77)
  • Khusuk (QS. 2:45-46)
 b. Tercapainya nilai-nilai takwa  (QS. 2:21, 2:183)

Rounded Rectangle: Metode Pengajaran<br /> •	Diskusi, Ceramah dan Simulasi<br /> •	Bedah Buku dan Film<br /> •	Training 




MATERI 2
MUAMALAH

Tujuan
  • Mengetahui muamalah dalam Islam
  • Menghindari segala bentuk muamalah yang tidak diperbolehkan dalam Islam
  • Melakukan muamalah dengan cara-cara yang disyari’atkan agar mendapatkan berkah

Rincian Materi

A. Berkhianat Terhadap Sekutu (Partner)

1        Dalil dari Alquran (QS. An Nisa: 29-30, Al Anfal: 27-28,  Al Baqarah: 188)
    1. (QS. An Nisa: 29-30)
    2. (QS. Al Anfal: 27-28)
    3. (QS. Al Baqarah: 188)
  1. Dalil dari Alhadits
Sahabat Am Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Allah swt telah berfirman: Aku adalah orang yang ketiga di antara dua orang yang bersekutu selagi keduanya belum berlaku serong terhadap salah satu teman sekutunya. Apabila salah satu dari keduanya telah ada yang berbuat serong, maka Aku pergi (tidak meridhainya) dari sisi keduanya." Imam Razin memberikan tambahan teks: "Maka datanglah syetan." (HR. Abu Dawud dan Hakim, yang menurutnya hadis ini termasuk shahih sanadnya).
Imam Daraquthnimengetengahkan sebuah riwayat, bah­wa Rasulullah saw telah bersabda; "Keridhaan Allah menyertai dua orang yang bersekutu dalam bekerja, selagi salah satunya belum berkhianat. Apabila salah satunya telah berkhianat, maka Allah tidak meridhainya lagi."

B. Kebahagiaan Pedagang yang Jujur

Sahabat Abi Sa'id Al-khudri ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda: "Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya, kelak pada hari kiamat akan mendapat kedudukan bersama para nabi, para shiddiqin, dan para syuhada'." (HR. Timudzhdan termasuk hadis hasan).
Sahabat Hakim bin Hizam ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Penjual dan pembeli diperbolehkan khiyar (melanjutkan atau membatalkan jual beli) selagi belum berpisah Apabila keduanya bertindak jujur dan menjelaskan keadaan dagangan yang sebenamya, maka jual beli itu mendatangkan keberkatan. Dan apabila salah satunya merahasiakan sesuatu atau berbuat curang, boleh jadi dia mendapatkan keuntungan lebih besar, tetapi jual beli itu tidak mendatangkan keberkatan. Sebab sumpah, palsu dapat mempercepat lakunya barang dagangan, tetapi menghilangkan keberkahan jual beli." (HR. Bukhari dan Muslim).

C. Larangan Berisyarat dengan Pedang

  1. Dalil dari Alquran (QS. Al Ahzab: 58)
  1. Dalil dari Alhadits
Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Janganlah salah seorang di antara kamu memberi isyarat kepada temannya dengan menggunakan pedang (senjata). Sebab dia tidak mengetahui barangkali syetan menarik tangannya, hingga kemudian dia terjatuh ke sebagian jurang neraka (melakukan pembunuhan)." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Abil-Qasim (Rasulullah) saw telah bersabda: "Barangsiapa memberi isyarat kepada teman seagama (sesama muslim) dengan pedang (senjata), maka para malaikat melaknatinya hingga dia berhenti dan isyarat itu, sekalipun yang diberi isyarat saudara kandung, ayah maupun ibunya sendiri." (HR. Muslim).

D. Larangan Memakan Upah Buruh

  1. Dalil dari Alquran (QS. An Nisa: 29-30)
  1. Dalil dari Alhadits
Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Nabi saw telah bersabda: "Allah ta'ala telah berfirman: "Ada tiga orang yang kelak pada hari kiamat Aku memusuhinya. Barangsiapa engkau musuhi, pasti Aku memusuhinya. Tiga orang itu adalah: Orang yang berjanji kepada-Ku kemudian mengingkarinya, orang yang menjual orang merdeka (bukan budak) kemudian hasil penjualan itu dimakan, dan orang yang mempunyai karyawan yang telah melaksanakan pekerjaan dengan baik lalu tidak segera dibayarkan upahnya." (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).
Sahabat Ibnu Umar ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Berikanlah ongkos karyawan (buruh) sebelum kering keringatnya." (HR. Ibnu Majah).

E. Memberi Kesempatan dalam Menagih Hutang

  1. Dalil dari Alhadits
Imam Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzimengetengahkan sebuah riwayat yang teksnya menurut riwayat Tirmidzi, yang menurutnya termasuk hadist hasan. Dan Imam Hakim menganggap sebagai hadis shahih, sejalan dengan riwayat Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Barangsiapa meringankan beban seorang muslim dari penderitaan dunia, maka Allah akan meringankan beban penderitaan pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan orang miskin di dunia, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa merahasiakan kekurangan (cela) seorang muslim di dunia, maka Allah akan merahasiakan pula cela dirinya di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah selalu memberikan pertolongan kepada hamba-Nya selagi hamba itu masih mau menolong sesamanya."

F. Menipu Dalam Berdagang

  1. Dalil dari Alquran (QS. Al Ahzab: 58)
  1. Dalil dari Alhadits
            Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Barangsiapa menghunus pedang di hadapanku, maka dia bukan termasuk golongan umatku. Dan barangsiapa menipuku (dalam jual beli), maka dia tidak termasuk golongan umatku pula." (HR. "Muslim).
Sahabat Abi Hurairah ra telah berkata: Pada suatu ketika Rasulullah saw lewat di depan seorang penjual bahan makanan. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan bahan makanan itu hingga jari-jari beliau merasakan adanya basah-basah di dalamnya. Kemudian Rasulullah bersabda: "Hai penjual bahan makanan, apakah basah-basah yang terdapat di dalam tumpukan bahan makanan yang kamu jual ini?" Jawabnya: "Terkena hujan, ya Rasulallah." Lalu Rasulullah bersabda: "Mengapa tidak kamu taruh di atas hingga para pembeli bisa mengetahui?" Sabda Rasu­lullah selanjutnya: "Barangsiapa menipu dalam jual beli, maka dia tidak termasuk golongan umatku." (HR. Muslim dan lbnu Majah).

G. Mempermudah Dalam Jual Beli


Sahabat Jabir bin Abdillah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Allah sangat menyayangi seseorang yang bersifat mudah (mempermudah) dalam jual beli. Bila menjual, bila membeli, dan bila menagih hutang selalu memberikan kemudahan." (HR. Bukhari dan Ibnu Majah, sedang teks hadis ini menurut riwayat Ibnu Majah).
Abi Hurairah ra telah berkata: Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw menagih hutang dengan nada kasar, sehingga para sahabat merasa tersinggung. Lalu Rasulullah saw bersabda: "Tinggalkanlah dia. Sebab bagi orang yang mempunyai hak, bebas berbicara." Selanjutnya beliau bersabda: "Bayarlah hutang itu kepadanya. Sebab sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik dalam membayar hutang." (HR: Bukhari dan Muslim).

H. Mempersulit Permintaan

  1. Dalil dari Alhadits
Amrin bin Syarid ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Orang kaya yang suka mempersulit bila dihutangi (dimintai) sesuatu adalah halal dirampas kehormatan dan harta kekayaannya." (HR. Ibnu Hibban dan Hakim, yang menurutnya termasuk shahih sanadnya).
            Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Bagi orang kaya, mempersulit adalah perbuatan zhalim. Apabila salah seorangdi antara kamu diberi kemudahan membayar hutang, maka segeralah membayamya." (HR. Bukhari dan Muslim).

I. Mencari Pekerjaan yang Halal


11.    (QS. An Nahl: 114)
12.    (QS. Al Maidah: 5)
Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Kelak akan datang kepada umat manusia suatu masa dimana mereka tidak memperdulikan lagi cara bekerja, entah haram entah halal yang penting mendapat penghasilan. (HR. Bukhari dan Nasai).
Sahabat Ka'ab bin Ajrah berkata, bahwa Rasulullah saw telah Bersabda kepadanya: "Ya Ka'ab bin Ajrah, tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dan makanan yang haram. Dan api neraka adalah lebih pantas buat dirinya. Ya Ka'ab bin Ajrah, di setiap pagi umat manusia pergi menuju dua tujuan: Ada yang pergi menyelamatkan diri (dari barang haram), dan ada yang pergi menghancurkan diri (mencari barang haram)." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

J. Mengurangi Takaran Timbangan


Sahabat Ibnu Umar ra telah bericata: Rasulullah saw pemah datang kepadaku, seraya bersabda: "Hai orang-orang Muhajirin, ada limaperkara yang apabila kamu diuji dengannya, maka sangat berat akibatnya. Aku memohon perlindungan kepada Allah, agar kamu tidak menemuinya: Tidak akan merajalela dekadensi moral di kalangan masyarakat, kecuali kalau mereka melakukan kemaksiatan secara terang-terangan, hingga kemudian mereka dilanda penyakit wabah dan kelaparan berkepanjangan, yang hal itu belum pemah terjadi pada umat sebelumnya. Mengurangi takaran dan timbangan, hingga kemudian mereka ditimpa paceklik panjang, biaya hidup sangat tinggi, dan dipimpin deh penguasa yang zhalim. Enggan membayar zakat, hingga ke­mudian mereka ditimpa kemarau panjang, dan sekiranya tidak ada binatang-binatang tentu tidak akan turun hujan untuk selamanya. Tidak memenuhi janji-janji Allah, hingga kemudian mereka dikuasai musuh yang berlaku sewenang-wenang dalam merampas hak-hak mereka! Dan pimpinan-pimpinan mereka tidak lagi berpegang kepada kitabullah serta beralih kepada hukum-hukum buatan manusia, hingga kemudian Allah menimpakan permusuhan di antara mereka." (HR. Ibnu Majah dan Bazzar, sedang teks hadis ini menurut riwayat Ibnu Majah).
Sahabat Anas ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: "Pedagang yang jujur kelak pada hari kiamat bernaung di bawah naungan' Arsy." (HR. Asfahani dan yang lain).



Rounded Rectangle: Metode Pengajaran<br /> •	Diskusi dan Ceramah<br /> •	Training<br /> •	Seminar  









Tidak ada komentar:

Posting Komentar