Kamis, 06 Februari 2014

Kita adalah Gugusan Planet^^



Kita Adalah Gugusan Planet
Oleh : Elysa Riska Armala

            Rintik hujan mulai menyapa wajah bumi, menjilati jalanan penuh debu. Padahal, tadi sinar surya masih gagah menguasai hari, tapi menjelang sore mendung tiba-tiba mengambil alih posisinya, lalu gerimis pun menjelma. Universitas Riau basah seketika.                        
 
Para pencari ilmu bergegas meneduhkan diri, ada yang menutupi tubuhnya dengan mantel hujan, berlindung sejenak di bawah pohon, ada juga yang nekat menembus hujan sambil berlarian mengejar berbagai tujuan.

            “Elll….. !!!” Teriak seseorang dari belakang. Aku terhenti di bawah payung biru yang telah basah. Suara langkah itu semakin mendekat, sementara aku masih tergugu menebak pemilik suara.
            “Hei? Aku nyariin kamu. Main kabur aja nih”. Nur menepuk pundakku.
            “Hei,” Jawabku beku. Aku khawatir, sepertinya Nur sudah hafal dengan gelagatku.
            “Bareng yuk berangkatnya. Aku juga baru selesai kuliah”.
            Aku masih hening tanpa jawaban. Sambil terus memayungi tubuhku dan tubuh Nur yang semakin deras terkena tempias hujan.
            “Yukkk buruan, nanti kita terlambat, kasihan kak Siti dan teman-teman udah nungguin dari tadi,” Nur menarik tanganku, mengikutinya berlarian.
Kali ini aku tak bisa mengelak, Bathinku.
***
“Ya, aku faham itu Put,” Jawabku sambil memalingkan muka dari Putri.
“Terus kenapa kamu gak pernah datang lagi El? Kak Siti nanyain kamu terus tuh”. Putri mengelus pundakku sebelum ia beranjak.
Aku bergegas menuju ke kelas. Ujian Akhis Semester (UAS)  mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia dan Alam ini, aku harus mendapat nilai maksimal. Aku sangat mengidolakan pak Al yang selalu menghubungkan materi yang beliau sampaikan dengan ayat-ayat Al-Quran. Seorang dosen yang keren, gaul, cerdas, berprestasi dan memiliki hati yang gemar mentadabburi ayat-ayat-Nya.
Setelah ujian selesai, aku menemui Nur di kelasnya. Ada hal yang mengganjal di hatiku sejak lama. Semoga dengan menceritakannya kepada Nur, aku akan mendapat pencerahan.
“Kita ngobrolnya di sini aja ya, biar lebih nyaman,” Nur mengajakku duduk di koridor di depan kelasnya. Sepi. Tidak banyak orang. Mungkin karena ini sudah sore.
“Nur, kamu tahu kalau aku jarang datang ke Khalaqoh. Tapi, kenapa tidak sekalipun kamu menanyaiku seperti teman-teman yang lain?”.
“Karena aku pernah merasakan apa yang saat ini kamu rasakan El, dan aku pengennya kamu berfikir sendiri lalu bergerak dengan penuh kesadaran, tanpa keterpaksaan”.
Bagaimana Nur bisa tahu apa yang aku fikirkan padahal aku tidak pernah bercerita sebelumnya. Mungkin inilah yang disebut firasat.
“Kamu tahu kan Nur, aku cukup rajin hadir di pengajian-pengajian besar. Termasuk seminar-seminar umum, aku selalu semangat untuk mengahadirinya. Bertemu dengan banyak orang baru, pemateri baru, suasana baru. Tapi aku heran Nur, kenapa setiap ke Khalaqoh aku tidak pernah bergairah ya?” aku menatap dalam mata Nur.
“Oh begitu. Apa ada sikap teman-teman yang membuatmu tidak nyaman El?”
“Rasanya tidak ada. Atau mungkin karena aku tidak mengenal mereka ya? Kalau dengan kamu kan kita sejurusan meskipun beda kelas. Dengan kak Siti juga aku tidak nyaman. Waktu itu sih aku terharu banget, kalian semua jengukin aku waktu aku sakit. Tapi setelah itu, ya semuanya kembali seperti biasa. Kadang aku juga merasa kak Siti lebih perhatian kepada Yen yang hafalannya sudah banyak Nur. Astaghfirullah… maafkan aku ya Allah” kataku sambil mengusap muka dengan kedua telapak tangan.
Nur hanya mengelus pundakku dengan lembut.
“Atau mungkin karena aku tidak suka terlalu diperhatikan ya Nur? Terutama itu loh, aku paling maleeeees banget ngisi Muttaba’ah harian. Atau aku merasa minder ya Nur? Karena teman-teman yang lain jilbabnya sudah sangat longgar sedangkan aku masih begini. Di tambah lagi waktu kemarin Yen bilang ‘target ngaji hariannya di tambah lagi lah kak, jangan 2 lembar lagi. Minimal 1 hari itu 1 jus aja kak’, ya aku tau Yen itu hebat, tapi jangan pamer gitu juga lah!”.
“Ell… Mungkin Yen gak bermaksud seperti itu. Jangan su’uzhon ah!”.
“Kalau gak pamer apa namanya Nur? Ya kalau dia sanggup ngaji 1 jus, ngaji aja. Aku gak bisa Nuuurr,,,, ngaji dikejar-kejar target gitu. Aku lebih suka perlahan, sambil menghayati bacaan dan setelah itu membaca terjemahnya. Bukankah Allah itu lebih suka dengan amal yang meskipun sedikit, tapi dikerjakan terus menerus? Itu juga yang semakin membuatku malas mengisi lembar Muttaba’ah harian, karena target-target itu tidak pernah tercapai olehku.”
Kepalaku masih tertunduk memandangi ujung sepatu. Sementara Nur duduk disebelah kananku sambil menatapku dari samping. Aku hening sejenak. Mengatur nafas yang semakin tidak karuan.
“Atau mungkin diantara kalian, hanya aku ya Nur yang merasakan hal itu?” mataku mulai berkaca-kaca.
“Iya. Sepertinya memang begitu. Karen, cuma aku yang tidak mampu mencapai target tilawah, cuma jilbabku yang masih minimalis, dan satu lagi cuma aku yang sampai detik ini belum tuntas menghafal Ar-Rahman”.
“Sssssttttt……… udah…udah el,” Nur memotong kalimatku yang masih saja ingin berlanjut.
“Aku pernah baca El. Pada suatu hari, ada seseorang yang bertanya kepada Rosullullah ‘Ya Rosullullah, beritahu aku amalam apa yang apabila aku lakukan, aku akan dijamin masuk syurga?,” Nur hening sejenak.
“Terus?” tanyaku penasaran.
“Maka Rosullullah menjawab ‘kalau saja aku tahu apa amalan itu, tentu aku akan mengamalkannya dan meninggalkan yang lainnya”.
Sinar jingga yang mulai merata di ufuk barat menjadi penutup perbincanganku dengan Nur sore ini. Kami bergegas mengejar jejak-tapak matahari yang semakin mengabur tersapu gulita.
***
“Siapa yang nelvon El?,” Tanya Brenda.
“Kak Sri”
“Terus kenapa kamu tiba-tiba murung gitu?”
“Gak apa-apa”.
“Iiisss… main rahasia-rahasiaan segala dia. Ayolah El, aku tahu kamu memikirkan sesuatu. Ceritalah ! Jarang banget loh orang penting kayak aku punya waktu, kamu beruntung kali ini. Ayo cerita,” Guraunya.
“Ahh… kamu nih ada-ada saja. Kak Sri tadi minta tolong buat jadi pementor dalam agenda asistensi buat adik-adik baru angkatan 2013. Bukankah hal ini yang sedang kita khawatirkan sejak kemarin Nda?”
Kami berdua-dua sama-sama terdiam sejenak. Sibuk dengan fikiran masing-masing.
“Sebenarnya tadi pagi pun aku di telvon kak Sri”.
“Lalu? Apa jawabanmu?”
“Belum ku jawab. Aku minta waktu buat berfikir”.
“Kamu tahu kan Nda gimana kebandelan aku selama kita khalaqoh dengan kak Rahma? Kita kan udah setahun lebih barengan”.
“Apa bedanya denganku El?”
“Kamu masih mending Nda, masih nurut kalau dikasih tugas pasti dikerjain. Lah aku?”
***
“Semoga laris ya dagangannya,” kata Nur sambil berpamitan.
“Thanks Nur,” balasku. Semenjak tidak se-khalaqohan dengan Nur, aku memang jarang bercerita panjang lebar seperti dulu. Tapi silaturahmi Insya Allah tetap terjaga.
Alhamdulillah bisnis Jamur Crispy yang aku jalankan bersama Brenda selama 3 bulan ini selalu ramai pengunjung. Jiwa bisnis kami memang sedang berapi-api. Brenda adalah teman sekos sekaligus sahabatku sejak pertama kali kami bertemu ketika proses daftar ulang ke Fakultas, 2 tahun yang lalu. Aku dan dirinya pernah secara tidak sengaja saling mengungkap mimpi. Brenda punya cita-cita ingin ke Negeri Kincir Angin, melihat tulips bermekaran. Sedangkan aku, ingin sekali ke Negeri Samurai, menyaksikan sakura bersemi. 2 mimpi yang sama-sama telah terpendam sejak lama.
“Udah azan, sholat yuk?” ajak Brenda, kami bergegas. Untungnya kami bisa sholat di warung Ayam Penyetnya bang Khoirun dan kak Yul ini. Karena, mereka juga tinggal di sini. Sudah 3 bulan kami menyewa tempat untuk berjualan di halaman warungnya yang cukup luas, mereka sudah kami anggap seperti abang dan kakak sendiri.
“Jadi gimana nih El?” Tanya Brenda tiba-tiba ketika kami baru menuntaskan lantunan tilawah.
“Gimana apanya?”
“Permintaan kak Sri kemarin El….”
“Ooohh… aku juga kefikiran terus. So, gimana hasil pencarian jawabanmu?” tanyaku.
“Aku udah Tanya ke Tati kemarin, begini jawabannya ‘orang lain meminta tolong kepada kita karena mereka yakin kita mampu. Begitu pun Allah, Ia memberikan amanah kepada hamba-Nya karena Ia tahu hamba-Nya mampu, dan itu tidak diberikan ke sembarang orang, tapi hanya kepada mereka yang spesial. Perihal rasa khawatir kita jika kita mendapat cemoohan suatu hari nanti karena kita melakukan kesalahan, itu adalah perkara wajar. Justru itu baik’,”.
“Baik apanya toh Nda? Nggak semua orang loh tahan dengan sindiran, dan nggak semua orang bisa disadarkan dengan sindiran. Kamu nggak ingat apa waktu kita di sindir kemarin karena pulang malam?”.
“Nah itu dia, Tati bilang ‘Disindir itu adalah cara Allah mengingatkan kita. Justru apajadinya coba kalau gak ada yang mengingatkan ketika kita salah? Itu adalah tanda bahwa Allah memberikan kita pengingat, karena kita juga telah mengingatkan orang lain. Manusia itu adalah tempat salah dan lupa’ gitu kata Tati El. Gimana menurutmu?”
“Aku juga udah Tanya ke beberapa orang. Ada yang mendukung ada juga yang mengatakan kalau tidak yakin, mending tidak usah. Daripada tidak amanah. Aku juga masih bimbang Nda. Apalagi kalau ingat penghargaan yang baru kuterima tadi, terus kemarin Ratna minta tolong aku buat jadi pembimbing forum diskusi karya tulis ilmiah Nda,” ungkapku sambil memandangi kado bersampul biru yang sejak tadi terletak di atas tas”.
“Oh ya, gimana tadi hasilnya?”
“Alhamdulillah aku dapat penghargaan sebagai kader dengan prestasi terbanyak Nda, dan dapet ini. Niatnya pengen menjauh, malah jadi gini. Semua teman-teman rohis dari semua fakultas hadir tadi, dan mereka mengucapkan ucapan selamat padaku”.
“Buka donk, apa isinya tuh?”
“Kayaknya sih buku isinya,” sambil perlahan ku buka.
TANYALAH AKU, SEBELUM KAU KEHILANGANKU. Demikianlah judulnya, berisi kumpulan kata-kata bijak Umar bin Khatab.
“Ell???” Brenda menatapku serius.
“Atau kita coba aja yuk jadi Murobbi???” ajaknya dengan keluguan. Alisku pun berkernyit. Tak terduga kalimat itulah yang keluar dari lisannya.
“Siapa tahu kita bisa?” kalimatnya semakin membuatku terpelongo.
“Jamurnya 1 ya dek!” pinta seorang laki-laki berkulit putih dan bermata sipit.
“Oke bang! Tunggu bentar ya di goring dulu”.
“Oke deh!”
Aku berbisik-bisik dengan Brenda, rupanya Brenda juga tidak mengenal siapa laki-laki itu. Ini berarti ia adalah pelanggan baru kami.
“Masih kuliah bang?” tanyaku.
“Masih. Kamu semester berapa? Tanyanya.
“Kami semester 5 bang. Kuliah di sini juga bang?”
“Iya…”
“Ini mau kemana bang?” Tanya Brenda.
“Mau Khalaqoh dek. Tapi kok teman-teman ni belum ada kabarnya dari tadi. Jadi bingung abang,” aku dan Brenda tidak menduga jawaban itu sebelumnya. Aku mengira sebelumnya ia hanya ingin jalan-jalan seperti anak muda pada umumnya di malam minggu karena penampilannya sangat stylish.
“Maaf sebelumnya, abang siapa namanya?” tanyaku sambil memberikan seporsi Jamur Crispy padanya.
“Vian” jawabnya.
“Oke bang Vian, kenapa kita harus khalaqoh?”
“Uhuk-uhuk”
“Eh, maaf bang”.
“Oh, gak apa-apa. Saya cuma kaget aja dengan pertanyaan kamu”.
“Saya salah pertanyaan ya bang?”
“Oh tentu saja tidak. Jadi begini, adek tahu gak apa yang membedakan islam dengan agama lainnya?”
“Apa bang?” Tanya Brenda penasaran.
“Dakwah”. Jawabnya singkat sambil terus melahap jamurnya.
“Khalaqoh adalah salah satu sarananya, di situlah kita belajar. Jika kita tidak mau berdakwah, maka kita tidak lagi istimewa. Sampaikan saja menurut porsi yang kita mampu dan bisa. Ingat, tidak ada kebaikan yang serta merta nikmat rasanya. Pada awalnya, kita harus memaksa diri kita untuk terus menerus melakukan kebaikan. Sehingga kelak ketika kita menoleh ke belakang, kebaikan-kebaikan itu telah menjadi kebiasaan kita. Dengan mengajari orang lain, sejatinya kita juga sedang mendidik diri sendiri”.
Kalimat padat yang barusan kami dengar seolah telah mewakili jawaban atas segala pertanyaan dan keraguan yang bercokol di kepala. Aku dan Brenda saling bertatapan, menerjemahkan secercah kesejukan yang baru saja menetes ke dasar kalbu.
***
MASJID ARFA’UNNAS UNIVERSITAS RIAU
Demikianlah sebait kalimat yang terpasang di ketinggian plafon masjid ini. Inilah tempat dimana orang datang dan pergi, tempat orang-orang menepi dari kesibukan dunia dan merapat kepada Sang Pemilik kehidupan, juga tempat kami berdiri saat ini; aku dan Brenda.
“Aku teringat sesuatu Nda,” Brenda menagalihkan tatapannya kepadaku.
“Kita ini bagaikan gugusan planet dalam sistem tata surya dan Matahari sebagai pusatnya. Meskipun setiap planet beredar di garis orbitnya masing-masing, tapi sejatinya mereka sedang melingkar dan mengelilingi sumber energi; Matahari.  Matahari itu adalah Murobbi dan planet-planet itu adalah kita”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar