Islam adalah agama yang sangat memperhatikan dan memuliakan para pemuda. Al-Quar’an menceritakan tentang protet pemuda ashaabu kahfi sebagai kelompok pemuda yang beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan mayoritas kaumnya yang menyimpang dari agama Allah SWT.
Akibatnya, Allah SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dengan menidurkan mereka selama 309 tahun. (Q.S Al Kahfi)
Akibatnya, Allah SWT menyelamatkan para pemuda tersebut dengan menidurkan mereka selama 309 tahun. (Q.S Al Kahfi)
Kisah pemuda ashaabul ukhduddalam Al Qur’an pun menceritakan tentang pemuda yang tegar keimanannya kepada Allah SWT. Sehingga banyak masyarakatnya yang beriman dan membuat murka penguasa. Akibatnya, ratusan orang dibinasakan dengan menceburkan kedalam parit berisi api yang bergejolak. Dan masih banyak lagi contoh-contoh kisah para pemuda lainnya, diantaranya bahwa mayoritas dari assabiquunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali beriman kepada Rasulullah SAW) adalah para pemuda (Abu Bakar ra. masuk Islam pada usia 32 tahun, umar ra. 35 tahun, Ali ra. 9 tahun, Utsman ra. 30 tahun dan seterusnya).
Sifat-sifat yang menyebabkan para pemuda tersebut dicintai Allah SWT dan mendapatkan derajat yang tinggi (kisah mereka di abadikan dalam Al-Qur’an dan dibaca oleh jutaan manusia dari masa ke masa) adalah sebagai berikut :- Mereka selalu menyeru kepada Al Haq (Q.S. 7: 181)
- Mereka mencintai Allah SWT, maka Allah SWT mencintai mereka (Q.S. 5:54)
- Mereka saling melindungi dan menegakkan shalat (Q.S. 9:71) tidak sebagaimana para pemuda yang menjadi musuh Allah SWT (Q.S. 9:67)
- Mereka adalah para pemuda yang memenuhi janjinya kepada Allah SWT (Q.S. 13:20)
- Mereka tidak ragu-ragu dalam berkorban diri dan harta untuk kepentingan Islam (Q.S. 49:15)
B. PEMUDA SEBAGAI GENERASI YANG MEMAHAMI KONDISI REALITA UMAT
Jika kita menyaksikan kondisi manyoritas umat Islam saat ini, maka terlihat bahwa sebagian besar umat berada pada keadaan yang sangat memprihatinkan. Mereka bagaikan buih terbawa banjir, tidak memiliki bobot dan tidak memiliki nilai. Jika dilakukan analisis secara mendalam dari sudut pandang agama, maka akan terlihat bahwa realitas umat yang demikian disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
A. Penyakit umat islam saat ini (Di Indonesia maupun di berbagai negara Islam) berpangkal pada sikap infiradiyyah (individualisme). Maksudnya, bahwa mayoritas umat islam pada saat ini bekerja sendiri-sendiri dan sibuk dengan masalahnya tanpa berusaha menggalang persatuan dan membuat suatu bargaining position demi kepentingan umat.
B. Secara kejiwaan, beberapa penyakit yang memperparah kondisi umat Islam saat ini, diantaranya adalah :
1. Emosional. Artinya, ikatan keislaman mayoritas umat saat ini baru pada ikatan emosional, belum disertai dengan kefahaman yang mendalam akan ajaran agamanya. Sehingga, disiplin bekerja, semangat berdakwah, gairah berinfak dan sebagainya baru pada taraf emosional, bersifat reaktif dan sesaat. (Q.S. 22:11)
2. Orientasi Kultus. Dalam pelaksanaan ibadah ritual, menjalankan pola haidup sampai dengan menyikapi berbagai peristiwa kontemporer, mayoritas masyarakat Muslim tidak berpegang kepada dasar kaidah-kaidah islam yang jelas. Mengapa? Karena pengetahuan keislaman yang pas-pasan sehingga lebih memandang kepada pendapat berbagai tokoh yag dikultuskan. Celakanya, para tokoh tersebut kebanyakan dikultuskan oleh barbagai lembaga yang tidak memiliki kompetensi sama sekali dalam bidang agama, seperti media masa. Akibatnya, bermunculanlah para ulamaselebriti yang berfatwa tanpa ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.
3. Sok Pintar. Misalnya, Dalam bidang agama. Dengan berbekalpengetahuan Islam yang ala kadarnya setiap orang sudah merasa cukup dan tidak perlu belajar lagi untuk berani berbicara, berpandirian bahkan berfatwa. Seolah-olah agama tidak memiliki kaidah-kaidah, hukum-hukum yang perlu dipelajari dan dikuasai sehingga seorang layak berbicara dengan mengatasnamankan Islam.
4. Meremehkan Yang Lain. Dengan ringannya seorang yang baru belajar agama disebuah universitas di barat, berani menyatakan bahwa jilbab adalah sekedar simbol bukan suatu kewajiban syar’i. Dengan “fatwa prematurnya” ini, ia telah berani manafsirkan tanpa kaidah atas ayat Al Qur’an.
C. Adapun secara aktivitas (amaliyah) beberapa penyakit yang menimpa mayoritas umat Islam saat ini adlaah :
1. Sembrono. Khutbah jum’at hanya hanya sekedar melaksanakan rutinitas tanpa dilakukan pembuatan silabus yang berbobot sehinga jamaah sebagian besar datang untuk tidur dari pada mendengarkan isi khutbah. Kegiatan membaca Al Qur’an hanya terbatas pada menikmati kaindahan suara pembacanya tanpa diiringi keinginan untuk menikmati dan merenungkan isinya, sehingga disamakan dengan menikmati lagu-lagu dan nyanyian belaka.
2. Parsial. Dalam melaksanakan Islam, mayoritas umat tidak berusaha mengamalkan keseluruhan kandungan Al Qur’an dan As-Sunnah, melainkan lebih memilih pada bagian-bagian yang sesuai dengan keinginannya dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya. (Q.S. 2:85) Sehingga, seorang dipandang sebagai Muslim sejati, hanya dengan indikator melakukan shalat atau puasa saja. Padahal shalat hanya sebagian kecil kewajiban seorang muslim, disamping aturan-aturan lain yang juga wajib dilaksanakan oleh seorang Muslim dalam berekonomi, politik, pergaulan, pola pikir, cita-cita, bekerja dan sebagainya. Yang kesemuanya tanpa kecuali akan diminta pertanggung jawaban kita di akhirat kelak. (Q.S. 2:208)
3. Tradisional. Islam yang dilaksanakan masih bersifat tradisional, baik dari sisi sarana maupun muatannya. Dari sisi sarana, kaum Muslimin belum mampu menggunakan media-media modren secara efektif untuk kepentingan dakwah, seperti: Ceramah dengan simulasi komputer, VCD film-film Islami dan iklan-iklan yang sesuai dengan nilai-nilai islam. Kebanyakan masih masih mengandalkan pada cara tradisional seperti: Ceramah di mesjid, mushola dan dilapangan. Sementara dari sisi muatannya, isi ceramah yang disampaikan kebanyakan masih bersifat fiqih oriented. Masalah-masalah akidah, ekonomi islam, apalagi masalah-masalah dunia islam kontemporer sama sekali belum banyak disentuh.
4. Tanbal-sulam. Dalam menyelesaikan berbagai persoalan umat, perdekatan yang dilakukan dersifat tambal-sulam dan sama sekali tidak menyentuh esensi permasalahan yang sebenarnya. Sebagai contoh: mewabahnya penyakit AIDS, cara mengatasinya sama sekali bertentangan dengan Islam yaitu dengan membagi-bagikan kondom. Seolah-olah lupa atau sengaja melupakan bahwa pangkal sebab dari AIDS adalah melakukan hubungan seks tidak dengan pasangan yang sah. Demikian pula masalah-masalah lainnya. Seperti : Tawuran pelajar, meningkatnya kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, menjamurnya KKN dan lain sebagainya. Hal ini berpangkal pada satu sebab yaitu lemahnya pemahaman dan kepedulian pemerintah dalam mengerjakan dan menerapkan aturan-aturan Islam.
C. PEMUDA HARUS MENJADI GENERASI YANG BEKERJA DAN AKTIF BERDAKWAH
Islam memandang posisi pemuda di masyarakat bukan menjadi kelompok pengekor yang sekedar berfoya-foya, membuang-buang waktu dengan aktivitas-aktivitas yang bersifat hura-hura dan tidak ada manfaatnya. Melainkan, islam menaruh harapan yang besar kepada para pemuda untuk menjadi pelopor dan motor penggerak dakwah islam. Pemuda adalah kelompok masyarakat yang memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan kelompok masyarakat lainnya , diantaranya mereka relatif masih bersih dari pencemaran (akidah mapun pemikiran), mereka memilki semangat kuat dan kamampuan mobilitas yang tinggi.
Para musuh Islam sangat menyadari hal tersebut, sehingga mereka berusaha sekuat tenaga mematikan potensi tersebut dari awal dan menghancurkan para pemuda dengan berbagai kegiatan yang laghwun (bersifat santai dan melalaikan), bahkan destruktif.
Pemuda yang baik dan benar adalah pemuda yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
1. Mereka beramal atau bekerja didasari dengan keimanan atau akidah yang benar (Q.S. 41:33)
2. Mereka selalu bekerja membangun masyarakat (Q.S. 18:7)
3. Mereka memahami bahwa orang yang baik adalah orang yang paling bermanfaat untuk umat dan masyarakat (Q.S. 9:105)
D. PEMUDA HARUS MENJADI GENERASI YANG MENJADIKAN POTRET ISLAM
Para pemuda hendaknya menyadari bahwa mereka haruslah menjadi kelompok yang mampu mempersentasikan nilai-nilai Islam secara utuh bagi masyarakat.
1. Mereka menjadi generasi yang qalbunya hidup (Q.S. 42: 88-89) karena senantiasa dekat dengan Al-Qur’an dan tenang dengan zikrullah (Q.S. 13:28) bukan generasi yang berhati batu (Q.S.57:16) akibat jauh dari nilai-nilai Islam ataupun generasi mayat (Q.S. 6:122) yang tidak bermanfaat tetapi menebar bau busuk kemanamana.
2. Dalam menghadapi kesulitan dan tantangan, para pemuda harus sabar dan terus berjuang menegakkan Islam. Hendaknya mereka berprinsip bahwa jika cintanya kepada Allah SWT benar, semua masalah akan terasa gampang.
3. Dalam perjuangan jika yang menjadi ukurannya adalah keridaan menusia maka akan terasa berat, tetapi jika ukurannya keridaan Allah SWT, maka apalah artinya dunia ini. (Q.S. 16:96)
E. PEMUDA HARUS MENJADI GENERASI YANG SELALU AKTIF BERDAKWAH
Jika kita melihat kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, sejarah hidup Rasulullah SAW dan para sahabatnya ra. maka akan ditemukan beberapa keutamaan dakwah dan jihad sebagai berikut :
1. Bahwa para sahabat ra. dalam berdakwah tidak menunggu Al-Qur’an lengkap diturunkan, melainkan setia satu ayat langsung disampaikan dan didakwahkan. Rasulullah SAW bersabda “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”.
Maka para pemuda tidak harus menunggu menjadi ulama dulu, baru mulai dakwah. Tetapi, mulailah dengan apa yang kita miliki dan laksanakan oleh diri sendiri labih dahulu.
2. Sebagian besar lafazh do’a dalam Islam menggunakan lafal jamak, hanya sedikit yang menggunakan lafal mufrod (tunggal). Bahkan dalam surat Al Fatihah yang merupakan rukun shalat, semua do’anya dalam lafal jamak. Artinya, bahwa secara halus Allah SWT menyuruh umatnya selalu memikirkan yang lain dan bekerjasama.
F. PEMUDA YANG BERPEGANG PADA NILAI-NILAI ISLAM DI AKHIR ZAMAN AKAN DIANGGAP ANEH TAPI HARUS TETAP ISTIQOMAH
Hal ini merupakan konsekuensi dari perjuangan menegakkan kebenaran Islam. Beberapa Hadis Raulullah SAW mengambarkan beratnya posisi kaum muslimin diakhir zaman walaupun sebagai imbalannya mereka mendapatkan pahala yang teramat besar. Beberapa hadis tersebut adalah :
1. Bahwa nanti di akhir zaman umatku yang berpegang teguh kepada sunnahku, bagaikan seorang yang menggenggam bara api, jika dipegang terasa panas tapi jika dilepas api itu mati.
2. Orang-orang yang berpegang teguh kepada sunnahku saat kerusakan melanda umatku, akan mendapatkan pahala seperti 100 orang yang mati syahid.
3. Akan senantiasa ada sekelompok kecil dari umatku yang berpegang teguh kepada kebenaran. Mereka tidak terpengaruh oleh orang-orang yang berbeda dengan mereka dan menghina mereka, sampai mereka bertemu dengan Allah SWT mereka tetap dalam kondisi demikian
H. PEMUDA HARUS MENJADI GENERASI YANG SEIMBANG DAN MODERAT
Menjalankan Islam secara konsekwen bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang yang picik dalam pemahamannya. Allah SWT menegur kelompok orang yang lari dan meninggalkan dunia karena beralasan mencari akhirat (Q.S. 7:32) Rasulullah SAW pun tidak menolak dan meninggalkan dunia tetapi memanfaatkan dan memakmurkannya untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Akibatnya, kaum Quraisy mencela Rasulullah dan meragukan ke-Rasulannya. (Q.S. 25:7) Dan, Allah SWT membela Rasulullah SAW dengan menegaskan bahwa semua rasul pun pergi kepasar dan tidak mengasingkan diri.
Keseimbangan (tawazun) pun berarti tidak berlebihan (ekstrem) dalam menjalankan Islam dan tidak bermalasan. (Q.S. 2:143) Jika keseimbangan berarti melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Konsep ekstrem maupun malas harus dipahami dengan menggunakan standar hukum Islam yang baku, bukan berdasarkan hawa nafsu dan pemahaman orang perorang. Mengapa? Karena jika nilai kebenaran dipahami berdasarkan hawa nafsu masing-masing, maka akan rusaklah dunia ini. (Q.S. 23:71)
VIII. PEMUDA HARUS MENJADI GENARASI YANG SELALU KEMBALI PADA ALLAH DAN BERTAUBAT
Hal lain yang harus dipahami para pemuda adalah mereka harus memahami bahwa setiap manusia pernah berbuat dosa. Namun, sebaik-baik orang yang berdosa adalah mereka yang senantiasa segera bertaubat dan kembali kepada Allah SWT. (Q.S. 3:135) Hal ini dikarenakan bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah (Q.S. 20:115) dan fakir akan hidayah Rabb-nya.
Hendaknya para pemuda merenungkan ucapan sahabat Ali ra. sebagai berikut, “Maksiat yang kusadari, lalu aku bertaubat lebih kucintai dari taat yang membuatku bangga diri” Dan juga ucapkan seorang ulama salaf ibnu Athaillah berikut ini. “Boleh jadi dibukakan pintu taat padamu tapi hal itu menyebabkan kamu lupa dan kufur akan nikmat taat tersebut, dan bolah jadi dibuka pintu maksiat atasmu tapi membuatmu menyesal dan taubat sehingga engkau menjadi dicintai Allah SWT”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar