Kita
Adalah Gugusan Planet
Oleh : Elysa Riska Armala
Rintik hujan mulai menyapa wajah bumi, menjilati jalanan
penuh debu. Padahal, tadi sinar surya masih gagah menguasai hari, tapi
menjelang sore mendung tiba-tiba mengambil alih posisinya, lalu gerimis pun
menjelma. Universitas Riau basah seketika.
Para pencari ilmu bergegas
meneduhkan diri, ada yang menutupi tubuhnya dengan mantel hujan, berlindung
sejenak di bawah pohon, ada juga yang nekat menembus hujan sambil berlarian
mengejar berbagai tujuan.
“Elll….. !!!” Teriak seseorang dari belakang. Aku
terhenti di bawah payung biru yang telah basah. Suara langkah itu semakin
mendekat, sementara aku masih tergugu menebak pemilik suara.
“Hei? Aku nyariin kamu. Main kabur aja nih”. Nur menepuk
pundakku.
“Hei,” Jawabku beku. Aku khawatir, sepertinya Nur sudah
hafal dengan gelagatku.
“Bareng yuk berangkatnya. Aku juga baru selesai kuliah”.
Aku masih hening tanpa jawaban. Sambil terus memayungi
tubuhku dan tubuh Nur yang semakin deras terkena tempias hujan.
“Yukkk buruan, nanti kita terlambat, kasihan kak Siti dan
teman-teman udah nungguin dari tadi,” Nur menarik tanganku, mengikutinya
berlarian.
Kali ini aku tak bisa mengelak,
Bathinku.
***
“Ya,
aku faham itu Put,” Jawabku sambil memalingkan muka dari Putri.
“Terus
kenapa kamu gak pernah datang lagi El? Kak Siti nanyain kamu terus tuh”. Putri
mengelus pundakku sebelum ia beranjak.
Aku
bergegas menuju ke kelas. Ujian Akhis Semester (UAS) mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia dan
Alam ini, aku harus mendapat nilai maksimal. Aku sangat mengidolakan pak Al
yang selalu menghubungkan materi yang beliau sampaikan dengan ayat-ayat
Al-Quran. Seorang dosen yang keren, gaul, cerdas, berprestasi dan memiliki hati
yang gemar mentadabburi ayat-ayat-Nya.
Setelah
ujian selesai, aku menemui Nur di kelasnya. Ada hal yang mengganjal di hatiku
sejak lama. Semoga dengan menceritakannya kepada Nur, aku akan mendapat
pencerahan.
“Kita
ngobrolnya di sini aja ya, biar lebih nyaman,” Nur mengajakku duduk di koridor
di depan kelasnya. Sepi. Tidak banyak orang. Mungkin karena ini sudah sore.
“Nur,
kamu tahu kalau aku jarang datang ke Khalaqoh. Tapi, kenapa tidak sekalipun
kamu menanyaiku seperti teman-teman yang lain?”.
“Karena
aku pernah merasakan apa yang saat ini kamu rasakan El, dan aku pengennya kamu
berfikir sendiri lalu bergerak dengan penuh kesadaran, tanpa keterpaksaan”.
Bagaimana
Nur bisa tahu apa yang aku fikirkan padahal aku tidak pernah bercerita
sebelumnya. Mungkin inilah yang disebut firasat.
“Kamu
tahu kan Nur, aku cukup rajin hadir di pengajian-pengajian besar. Termasuk
seminar-seminar umum, aku selalu semangat untuk mengahadirinya. Bertemu dengan
banyak orang baru, pemateri baru, suasana baru. Tapi aku heran Nur, kenapa
setiap ke Khalaqoh aku tidak pernah bergairah ya?” aku menatap dalam mata Nur.
“Oh
begitu. Apa ada sikap teman-teman yang membuatmu tidak nyaman El?”
“Rasanya
tidak ada. Atau mungkin karena aku tidak mengenal mereka ya? Kalau dengan kamu
kan kita sejurusan meskipun beda kelas. Dengan kak Siti juga aku tidak nyaman.
Waktu itu sih aku terharu banget, kalian semua jengukin aku waktu aku sakit.
Tapi setelah itu, ya semuanya kembali seperti biasa. Kadang aku juga merasa kak
Siti lebih perhatian kepada Yen yang hafalannya sudah banyak Nur.
Astaghfirullah… maafkan aku ya Allah” kataku sambil mengusap muka dengan kedua
telapak tangan.
Nur
hanya mengelus pundakku dengan lembut.
“Atau
mungkin karena aku tidak suka terlalu diperhatikan ya Nur? Terutama itu loh,
aku paling maleeeees banget ngisi Muttaba’ah harian. Atau aku merasa minder ya
Nur? Karena teman-teman yang lain jilbabnya sudah sangat longgar sedangkan aku
masih begini. Di tambah lagi waktu kemarin Yen bilang ‘target ngaji hariannya
di tambah lagi lah kak, jangan 2 lembar lagi. Minimal 1 hari itu 1 jus aja
kak’, ya aku tau Yen itu hebat, tapi jangan pamer gitu juga lah!”.
“Ell…
Mungkin Yen gak bermaksud seperti itu. Jangan su’uzhon ah!”.
“Kalau
gak pamer apa namanya Nur? Ya kalau dia sanggup ngaji 1 jus, ngaji aja. Aku gak
bisa Nuuurr,,,, ngaji dikejar-kejar target gitu. Aku lebih suka perlahan,
sambil menghayati bacaan dan setelah itu membaca terjemahnya. Bukankah Allah
itu lebih suka dengan amal yang meskipun sedikit, tapi dikerjakan terus
menerus? Itu juga yang semakin membuatku malas mengisi lembar Muttaba’ah
harian, karena target-target itu tidak pernah tercapai olehku.”
Kepalaku
masih tertunduk memandangi ujung sepatu. Sementara Nur duduk disebelah kananku
sambil menatapku dari samping. Aku hening sejenak. Mengatur nafas yang semakin
tidak karuan.
“Atau
mungkin diantara kalian, hanya aku ya Nur yang merasakan hal itu?” mataku mulai
berkaca-kaca.
“Iya.
Sepertinya memang begitu. Karen, cuma aku yang tidak mampu mencapai target
tilawah, cuma jilbabku yang masih minimalis, dan satu lagi cuma aku yang sampai
detik ini belum tuntas menghafal Ar-Rahman”.
“Sssssttttt………
udah…udah el,” Nur memotong kalimatku yang masih saja ingin berlanjut.
“Aku
pernah baca El. Pada suatu hari, ada seseorang yang bertanya kepada Rosullullah
‘Ya Rosullullah, beritahu aku amalam apa yang apabila aku lakukan, aku akan
dijamin masuk syurga?,” Nur hening sejenak.
“Terus?”
tanyaku penasaran.
“Maka
Rosullullah menjawab ‘kalau saja aku tahu apa amalan itu, tentu aku akan
mengamalkannya dan meninggalkan yang lainnya”.
Sinar
jingga yang mulai merata di ufuk barat menjadi penutup perbincanganku dengan
Nur sore ini. Kami bergegas mengejar jejak-tapak matahari yang semakin mengabur
tersapu gulita.
***
“Siapa
yang nelvon El?,” Tanya Brenda.
“Kak
Sri”
“Terus
kenapa kamu tiba-tiba murung gitu?”
“Gak
apa-apa”.
“Iiisss…
main rahasia-rahasiaan segala dia. Ayolah El, aku tahu kamu memikirkan sesuatu.
Ceritalah ! Jarang banget loh orang penting kayak aku punya waktu, kamu
beruntung kali ini. Ayo cerita,” Guraunya.
“Ahh…
kamu nih ada-ada saja. Kak Sri tadi minta tolong buat jadi pementor dalam
agenda asistensi buat adik-adik baru angkatan 2013. Bukankah hal ini yang
sedang kita khawatirkan sejak kemarin Nda?”
Kami
berdua-dua sama-sama terdiam sejenak. Sibuk dengan fikiran masing-masing.
“Sebenarnya
tadi pagi pun aku di telvon kak Sri”.
“Lalu?
Apa jawabanmu?”
“Belum
ku jawab. Aku minta waktu buat berfikir”.
“Kamu
tahu kan Nda gimana kebandelan aku selama kita khalaqoh dengan kak Rahma? Kita
kan udah setahun lebih barengan”.
“Apa
bedanya denganku El?”
“Kamu
masih mending Nda, masih nurut kalau dikasih tugas pasti dikerjain. Lah aku?”
***
“Semoga
laris ya dagangannya,” kata Nur sambil berpamitan.
“Thanks
Nur,” balasku. Semenjak tidak se-khalaqohan dengan Nur, aku memang jarang
bercerita panjang lebar seperti dulu. Tapi silaturahmi Insya Allah tetap
terjaga.
Alhamdulillah
bisnis Jamur Crispy yang aku jalankan bersama Brenda selama 3 bulan ini selalu
ramai pengunjung. Jiwa bisnis kami memang sedang berapi-api. Brenda adalah
teman sekos sekaligus sahabatku sejak pertama kali kami bertemu ketika proses
daftar ulang ke Fakultas, 2 tahun yang lalu. Aku dan dirinya pernah secara
tidak sengaja saling mengungkap mimpi. Brenda punya cita-cita ingin ke Negeri
Kincir Angin, melihat tulips bermekaran. Sedangkan aku, ingin sekali ke Negeri
Samurai, menyaksikan sakura bersemi. 2 mimpi yang sama-sama telah terpendam
sejak lama.
“Udah
azan, sholat yuk?” ajak Brenda, kami bergegas. Untungnya kami bisa sholat di
warung Ayam Penyetnya bang Khoirun dan kak Yul ini. Karena, mereka juga tinggal
di sini. Sudah 3 bulan kami menyewa tempat untuk berjualan di halaman warungnya
yang cukup luas, mereka sudah kami anggap seperti abang dan kakak sendiri.
“Jadi
gimana nih El?” Tanya Brenda tiba-tiba ketika kami baru menuntaskan lantunan
tilawah.
“Gimana
apanya?”
“Permintaan
kak Sri kemarin El….”
“Ooohh…
aku juga kefikiran terus. So, gimana hasil pencarian jawabanmu?” tanyaku.
“Aku
udah Tanya ke Tati kemarin, begini jawabannya ‘orang lain meminta tolong kepada
kita karena mereka yakin kita mampu. Begitu pun Allah, Ia memberikan amanah
kepada hamba-Nya karena Ia tahu hamba-Nya mampu, dan itu tidak diberikan ke
sembarang orang, tapi hanya kepada mereka yang spesial. Perihal rasa khawatir
kita jika kita mendapat cemoohan suatu hari nanti karena kita melakukan
kesalahan, itu adalah perkara wajar. Justru itu baik’,”.
“Baik
apanya toh Nda? Nggak semua orang loh tahan dengan sindiran, dan nggak semua
orang bisa disadarkan dengan sindiran. Kamu nggak ingat apa waktu kita di
sindir kemarin karena pulang malam?”.
“Nah
itu dia, Tati bilang ‘Disindir itu adalah cara Allah mengingatkan kita. Justru
apajadinya coba kalau gak ada yang mengingatkan ketika kita salah? Itu adalah
tanda bahwa Allah memberikan kita pengingat, karena kita juga telah
mengingatkan orang lain. Manusia itu adalah tempat salah dan lupa’ gitu kata
Tati El. Gimana menurutmu?”
“Aku
juga udah Tanya ke beberapa orang. Ada yang mendukung ada juga yang mengatakan
kalau tidak yakin, mending tidak usah. Daripada tidak amanah. Aku juga masih bimbang
Nda. Apalagi kalau ingat penghargaan yang baru kuterima tadi, terus kemarin
Ratna minta tolong aku buat jadi pembimbing forum diskusi karya tulis ilmiah
Nda,” ungkapku sambil memandangi kado bersampul biru yang sejak tadi terletak
di atas tas”.
“Oh
ya, gimana tadi hasilnya?”
“Alhamdulillah
aku dapat penghargaan sebagai kader dengan prestasi terbanyak Nda, dan dapet
ini. Niatnya pengen menjauh, malah jadi gini. Semua teman-teman rohis dari
semua fakultas hadir tadi, dan mereka mengucapkan ucapan selamat padaku”.
“Buka
donk, apa isinya tuh?”
“Kayaknya
sih buku isinya,” sambil perlahan ku buka.
TANYALAH AKU, SEBELUM KAU
KEHILANGANKU. Demikianlah judulnya, berisi kumpulan
kata-kata bijak Umar bin Khatab.
“Ell???”
Brenda menatapku serius.
“Atau
kita coba aja yuk jadi Murobbi???” ajaknya dengan keluguan. Alisku pun
berkernyit. Tak terduga kalimat itulah yang keluar dari lisannya.
“Siapa
tahu kita bisa?” kalimatnya semakin membuatku terpelongo.
“Jamurnya
1 ya dek!” pinta seorang laki-laki berkulit putih dan bermata sipit.
“Oke
bang! Tunggu bentar ya di goring dulu”.
“Oke
deh!”
Aku
berbisik-bisik dengan Brenda, rupanya Brenda juga tidak mengenal siapa
laki-laki itu. Ini berarti ia adalah pelanggan baru kami.
“Masih
kuliah bang?” tanyaku.
“Masih.
Kamu semester berapa? Tanyanya.
“Kami
semester 5 bang. Kuliah di sini juga bang?”
“Iya…”
“Ini
mau kemana bang?” Tanya Brenda.
“Mau
Khalaqoh dek. Tapi kok teman-teman ni belum ada kabarnya dari tadi. Jadi
bingung abang,” aku dan Brenda tidak menduga jawaban itu sebelumnya. Aku
mengira sebelumnya ia hanya ingin jalan-jalan seperti anak muda pada umumnya di
malam minggu karena penampilannya sangat stylish.
“Maaf
sebelumnya, abang siapa namanya?” tanyaku sambil memberikan seporsi Jamur
Crispy padanya.
“Vian”
jawabnya.
“Oke
bang Vian, kenapa kita harus khalaqoh?”
“Uhuk-uhuk”
“Eh,
maaf bang”.
“Oh,
gak apa-apa. Saya cuma kaget aja dengan pertanyaan kamu”.
“Saya
salah pertanyaan ya bang?”
“Oh
tentu saja tidak. Jadi begini, adek tahu gak apa yang membedakan islam dengan
agama lainnya?”
“Apa
bang?” Tanya Brenda penasaran.
“Dakwah”.
Jawabnya singkat sambil terus melahap jamurnya.
“Khalaqoh
adalah salah satu sarananya, di situlah kita belajar. Jika kita tidak mau
berdakwah, maka kita tidak lagi istimewa. Sampaikan saja menurut porsi yang
kita mampu dan bisa. Ingat, tidak ada kebaikan yang serta merta nikmat rasanya.
Pada awalnya, kita harus memaksa diri kita untuk terus menerus melakukan
kebaikan. Sehingga kelak ketika kita menoleh ke belakang, kebaikan-kebaikan itu
telah menjadi kebiasaan kita. Dengan mengajari orang lain, sejatinya kita juga
sedang mendidik diri sendiri”.
Kalimat
padat yang barusan kami dengar seolah telah mewakili jawaban atas segala
pertanyaan dan keraguan yang bercokol di kepala. Aku dan Brenda saling
bertatapan, menerjemahkan secercah kesejukan yang baru saja menetes ke dasar
kalbu.
***
MASJID ARFA’UNNAS UNIVERSITAS RIAU
Demikianlah
sebait kalimat yang terpasang di ketinggian plafon masjid ini. Inilah tempat dimana
orang datang dan pergi, tempat orang-orang menepi dari kesibukan dunia dan
merapat kepada Sang Pemilik kehidupan, juga tempat kami berdiri saat ini; aku
dan Brenda.
“Aku
teringat sesuatu Nda,” Brenda menagalihkan tatapannya kepadaku.
“Kita
ini bagaikan gugusan planet dalam sistem tata surya dan Matahari sebagai
pusatnya. Meskipun setiap planet beredar di garis orbitnya masing-masing, tapi
sejatinya mereka sedang melingkar dan mengelilingi sumber energi; Matahari. Matahari itu adalah Murobbi dan planet-planet
itu adalah kita”.
